Padi Organik SRI

Padi Organik SRI

Cara bertani seksama dan alami ( CBSA )

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan (nasib) satu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” ( Al-Qur’an : AR RA’D ayat 11 )

I. BUDIDAYA PADI METODA SRI

1-large2

SRI ( System of Rice Intensification ) adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu di Pulau Madagaskar dimana kondisi dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Karena kondisi lahan pertanian yang terus menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metoda SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi petani Madagaskar pada saat itu, dengan hasil yang sangat mengagumkan. Saat ini SRI telah berkembang di banyak negara penghasil beras seperti di Thailand, Philipina, India, China, Kamboja, Laos, Srilanka, Peru, Cuba, Brazil, Vietnam dan banyak negara maju lainnya. Melalui presentasinya Prof. Norman Uphoff dari universitas Cornell, USA, pada tahun 1997 di Bogor, SRI diperkenalkan di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 penerapan dilapangan oleh para petani kita di Sukabumi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan daerah lainnya memberikan lonjakan hasil panen yang luar biasa.

2-large1

Cara budidaya SRI sebenarnya tidak asing bagi para petani kita, karena sebagian besar prosesnya sudah dipahami dan biasa dilakukan petani. Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi/beras organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama-sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia . Metoda SRI seluruhnya menggunakan bahan organik disekitar kita ( petani ) yang ramah lingkungan, dan bersahabat dengan alam serta mahluk hidup di lingkungan persawahan. Dari hasil penelitian dan percobaan oleh para ahli selama bertahun-tahun di berbagai negara menunjukan bahwa hasil yang diperoleh dengan metoda SRI sangat tinggi jika sepenuhnya tidak memakai bahan-bahan sintetis( kimia/anorganik) baik untuk pupuk maupun untuk pembasmi hama dan penyakit padi.

3-large1

Prinsip dasar budidaya padi organik SRI terdiri dari beberapa kegiatan kunci dan prosesnya mutlak harus dilakukan agar hasil yang dicapai petani optimal.

1. Proses Pembibitan.

2. Proses Pengolahan Lahan.

3. Proses Penanaman Bibit Padi.

4. Proses Pemeliharaan.

5. Proses Pemupukan.

6. Proses Pengendalian Hama.

1.Proses Pembibitan.

13-large2

Tahapan proses pembibitan dimulai dari proses pemilihan ( seleksi ) bibit padi serta penyemaian sebagai mana uraian berikut:

a. Siapkan air tawar dalam ember secukupnya lalu masukkan sebutir telur ayam/bebek, kemudian secara perlahan-lahan masukan garam dapur sambil diaduk-aduk dengan hati-hati sehingga telur yang semula tenggelam akhirnya terapung. Artinya air tersebut sudah siap dipakai untuk seleksi bibit padi.

14-large

b. Masukan bibit padi ke dalam ember yang berisi air+garam tadi. Bibit padi yang tenggelam itu bibit padi yang baik sedangkan yang terapung/melayang adalah bibit padi yang jelek. Ambil bibit padi yang baik tersebut lalu dicuci dengan air bersih beberapa kali, kemudian direndam 2 hari lalu diperam dengan kain basah selama 1-2 malam hingga muncul lembaga bintil putihnya untuk disemai esok harinya. Satu hektar sawah diperlukan lebih-kurang 5 Kg bibit yang baik.

15-large

c. Buatlah adukan tanah sawah + kompos/pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 setelah merata masukan adukan tanah + kompos tadi ke dalam besek (pipiti) atau gedebog pisang atau fasilitas tempat lain yang praktis setinggi 4 cm ( ¾ tinggi pipiti) yang alasnya telah dilapisi plastik atau dedaunan atau di petak sawah langsung yang telah dilapisi plastik. Direkomendasikan adukan ditambah sekam padi yang sudah lapuk 50% untuk penyubur dan memudahkan penarikan benih padi muda satu per satu ketika penanaman.

d. Sirami tanah + kompos dalam pipiti atau gedebog pisang tadi agar lembab sebelum ditebar bibit padi yang sudah didiamkan selama 2 malam hingga keluar kecambah.Jumlah tebaran bibit padi per pipiti berkisar 200-250 butir. Tutupi tebaran tersebut dengan lapisan tipis adukan tanah+kompos dan potongan jerami, kemudian disirami sedikit agar persemaian tetap lembab.

16-large2

e. Selama persemaian dianjurkan malam hari diberi penerangan lampu pijar 75W dengan jarak lampu ke persemaiain 1-2 meter dan bebas dari gangguan hewan. Untuk menjaga kelembabannya, persemaian disirami setiap harinya dengan campuran larutan air dan mol dengan perbandingan 30 : 1.

f. Setelah persemaian berumur antara 7-10 hari (sejak dari hari pertama persemaian) bibit padi akan berdaun dua helai dan bibit padi sudah harus ditanam pada petak sawah. Inilah perbedaan pertama cara penanaman metoda SRI dengan cara konvensional.

2.Proses Pengolahan Lahan.

9-large

a. Kondisi lahan sawah kita umumnya sudah miskin bahan organik dan banyak residu pupuk kimia serta pestisida kimia, sehingga lahan miskin unsur hara dan agregatnya sangat kuat. Karena itu perlu dimasukkan bahan-bahan organik minimal sama volume dan bobotnya dengan yang keluar dari sawah ( jerami dan padi ) atau setara 7-10 ton kompos/Ha. Jerami dan sekam harus dimasukkan kembali ke sawah setelah dilakukan fermentasi ( pengomposan ) terlebih dahulu. Untuk mempercepat proses fermentasi/pengomposan, jerami ditumpuk berlapis-lapis dan diberikan kotoran hewan ( kohen ) dan hijauan sekitar seperti ki rinyu dsb serta mikroba ( dalam bentuk cairan atau kompos mikroba ). Setiap lapisan jerami tebalnya 10-20 cm lalu ditaburi kohe atau mikroba , kemudian disiram hingga basah sebelum ditumpuk lapisan jerami berikutnya. Tumpukan jerami ditutup dengan plastik atau bahan bahan lain agar tidak terlalu basah oleh air hujan atau kekeringan oleh teriknya sinar matahari. Setelah 4 pekan atau lebih, fermentasi jerami selesai menjadi kompos dasar. Ketika petak sawah akan dibajak, sebarkan 50% kompos dasar merata ke seluruh petak sawah dan separuhnya lagi disebarkan waktu perataan tanah. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka selain kompos dasar tersebut diperlukan tambahan kompos mikroba yang volume atau beratnya sebanding dengan gabah yang dihasilkan sebelumnya. Genangi petak sawah beberapa hari lalu dibajak dengan kedalaman 30-40 cm. Semakin dalam pengolahan lahan semakin baik karena akar padi yang sehat dapat mencapai kedalaman 60 cm. Panjang malai padi akan sebanding dengan kedalaman ( panjang akar ) padi.

b. Buatlah parit kecil sekeliling dalam dari petak sawah dan melintang di tengah sawah. Parit ini fungsinya untuk pengendalian air (drainase) dalam petak sawah. Lebar parit 20 cm dan kedalamannya tidak kurang dari 30 cm. Untuk mendapatkan sistem aerasi yang baik dan hasil yang optimal,airi petak sawah 2 hari sekali hanya hingga macak-macak agar mikroba dapat berfungsi maksimal karena memperoleh udara (oksigen) yang cukup. Pembuatan parit sebaiknya dilakukan dalam keadaan tanah yang tidak berair dan agak kering agar pembentukannya mudah serta tidak turun ( longsor ) lagi.

c. Setelah permukaan petak sawah rata dan dibuat selokan-selokan, dalam kondisi petak sawah macak-macak, lalu dibuat garutan untuk jarak penanaman bibit padi. Hentikan pemasukan air ke petak sawah, demikian pula hentikan pengeluaran air dari petak sawah. Jika hal ini sulit dilakukan karena georafi lokasi petak sawah atau karena sistem pengairan berjenjang lakukanlah usaha sedemikian rupa hingga petak sawah tidak sampai tergenang air karena walaupun butuh air tapi padi bukan tanaman air.

3.Proses Penanaman Bibit Padi.

18-large

a. Pada saat penanaman bibit padi ke petak sawah, kondisi petak sawah tidak boleh tergenang tetapi hanya macak-macak saja. Lama jarak waktu dari pencabutan bibit padi dari persemaian hingga ke penanaman di petak sawah tidak boleh melebihi 15 menit. Penundaan penanaman lebih dari 15 menit dapat menurunkan kemampuan pertumbuhan anakan rumpun padi.

b. Gunakan hanya satu bibit padi per posisi tanam, penanaman bibit padi sangat dangkal, hampir tidak dibenamkan sama sekali, hanya sedalam 0,5-1,0 cm saja. Posisi akar bibit padi sejajar dengan permukaan tanah sehingga batang bibit padi dan akarnya berbentuk huruf ’L’. Kalau penanaman bibit padi dibenamkan batang dan akar akan membentuk huruf ’J’ sehingga akan mengurangi kemampuan bibit padi untuk tumbuh, berkembang dan memiliki akar yang banyak serta kuat. Ini adalah hal yang kedua yang membedakan bertani cara ’SRI’ dengan cara tradisional .

c. Selain cara persemaian dan penanaman tersebut, petani dapat menggunakan cara tanam benih langsung ( tabela ). Proses seleksi benih tetap sama, dan benih didiamkan selama 2 ( dua ) hari hingga keluar kecambah. Kemudian benih tersebut ditanam tunggal dengan jarak tanam tidak boleh kurang dari 35 cm. Sisakan bibit padi sekitar 2 % dari kebutuhan seluruh bibit padi yang ditanam sebagai tanaman cadangan dan disemai dipinggir petak sawah. Dari berbagai pengalaman di lapangan, bibit yang mati karena berbagai sebab tidak akan melebihi angka 2 %.

d. Untuk menekan pertumbuhan gulma,setelah penanaman, sawah agak direndam sedikit diatas macak-macak ( 1 – 2 cm diatas pangkal batang padi ) selama 10 hari. Setelah 10 hari lalu di keringkan kembali ke keadaan macak-macak,taburlah kompos mikroba merata per 2 baris tanaman padi lalu dibuat kamalir setiap 2 baris tanaman dengan maksud agar semua rumpun tanaman padi mendapat posisi pinggir kamalir (parit).

4.Proses Pemeliharaan.

10-large

a. Selama bertani padi secara ’SRI’ kondisi tanah petak sawah hanya lembab dan macak-macak hingga 2 pekan sebelum panen baru benar-benar di keringkan sama sekali.

b. Bila bibit yang ditanam ada yang rusak atau kurang baik pertumbuhannya dalam 10 hari pertama setelah penanaman, lakukanlah penyulaman. Penyulaman harus dilakukan hati-hati jangan sampai ada akar yang rusak, prosedur dan caranya sama seperti penanaman awal bibit padi, dangkal saja dan jangan terlalu dalam.

c. Cara bersawah ’SRI’ sangat hemat pemakaian air (berkurang kebutuhan air lebih dari 50%). Air dijaga hanya ada di dalam parit sekitar dan tengah sawah saja.

d. Penyiangan (ngarambet) sangat penting dilakukan dalam metoda ’SRI’ karena produksi gabah akan berkurang 1-2 ton untuk setiap kali kelalaian penyiangan. Penyiangan dilakukan setiap 2 pekan sekali. Penyiangan pertama harus dilakukan 10 hari setelah bibit padi ditanam. Tujuan utama penyiangan adalah untuk meningkatkan aerasi udara bagi tanah sawah sehingga terjadi suplai udara (oksigen) yang cukup memadai ke dalam tanah, tanah akan lebih subur, dan gas-gas beracun di dalam tanah bisa keluar, sehingga tanah akan lebih gembur. Gulma pengganggu tanaman padi dicabut dan kemudian dibenamkan saja kedalam tanah. Penyiangan dilakukan dengan menggunakan alat penyiang yang didorong berputar, sekaligus menggali dan mengaduk tanah.

11-large

5. Proses Pemupukan.

Penerapan pemakaian yang tinggi dari pupuk, pestisida dan insektisida kimia pada lahan sawah untuk pertanian padi selama ini yang tidak terkendali sudah memberikan dampak sangat negatip pada kesuburan lahan sawah kita. Baik secara struktur phisik tanah maupun secara bio-organisme tanah, tanah sawah kita kebanyakan mengalami tingkat kerusakan yang tinggi. Hal ini diperlihatkan dengan terus menurunnya hasil panen padi per musim tanam dan seringnya terjadi serangan hama & penyakit yang luas dan dalam waktu yang singkat. Karena itu pada tahap awal kondisi sawah harus direhabilitasi agar memperoleh hasil yang optimal. Untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan bahan organik setidaknya 8-10 ton/Ha serta pupuk kompos organik 2-3 ton /Ha. Bahan organik terbesar ( 8-10 ton/Ha) diharapkan dapat dibuat sendiri oleh petani dengan memanfaatkan jerami (sisa panen) dan bahan organik yang bisa diperoleh disekitar sawah mereka ( lihat Proses Pengolahan Lahan ).

12-large

Jika hal tersebut sudah dilakukan (terpenuhi), sebenarnya tidak diperlukan pemupukan lagi dalam sistem ”SRI”, namun karena kebiasaan petani melakukan pemupukan lebih dari sekali maka dapat digunakan pupuk organik cair sebagai pelengkap dengan cara disemprotkan.

4-large

6.Proses Pengendalian Hama & Penyakit.

Cara bertani padi secara ”SRI”, selain untuk meningkatkan produkri padi dengan memanfaatkan bahan-bahan organik yang ramah lingkungan, relatif murah, mudah diperolehnya, juga untuk memperbaiki struktur maupun kondisi lahan persawahan secara berkesinambungan. Artinya dengan ber-”SRI” kita bukan saja dapat mempertahankan tingkat produktivitas padi yang tinggi tetapi juga meningkatkan struktur dan kondisi lahan sawah serta membaiknya lingkungan hidup biotik di persawahan.

5-large

6-large

Itulah sebabnya dari data para petani di Sumedang, Tasikmalaya, Sukabumi dll melaporkan adanya peningkatan produktivitas bertani padi secara “SRI”dari musim tanam ke musim tanam berikutnya. Dengan semakin membaiknya sistem lingkungan hidup biotik tadi berarti semakin dapat ditekan resiko kerusakan akibat serangan hama dan penyakit karena setiap hama padi akan muncul musuh alaminya (MA).

7-large

Metoda ”SRI” yang diterapkan adalah menggunakan bahan-bahan organik seluruhnya dan tidak menganjurkan sama sekali pemakaian pupuk maupun obat-obatan kimia. Pemakaian air yang sangan minim ( 50% ) dari pada cara konvensional akan dapat menekan berkembang biaknya keong emas karena secara praktis sawah tidak pernah tergenang air, pangkal batang padi tidak pernah terendam air, kondisi sawah hanya lembab dan macak-macak saja. Kalau masih terdapat serangan hama keong emas yang cukup banyak, itu mengindikasikan masih ada genangan air, itu berarti belum menerapkan ”SRI” sepenuhnya.

Tikus salah satu hama yang sangat dikhawatirkan para petani selama ini karena serangannya sangat cepat dengan jumlah kerusakan yang sangat luas. Batang padi metoda ”SRI” relatif lebih besar dan lebih keras sehingga kurang disenangi hama tikus. Hama siklus tikus sebenarnya hanya 9 bulan setelah itu ia akan mati, namun setelah usia kurang dari 4 bulan hama ini sudah dapat berkembang biak. Itulah sebabnya hama tikus ini sangat cepat bertambah populasinya. Hama tikus tidak menyukai bau yang menyengat seperti bau jengkol dan rasa yang pahit seperti brotowali, sehingga secara mandiri para petani dapat membuat sendiri ramuan pengusir tikus lalu disemprotkan ke tanaman padi. Cara ini selain sangat murah dan praktis, juga ramah lingkungan karena ramuan tadi tidak membunuh musuh alami dari hama yang lain.

17-large

Hama capung dan burung dapat diatasi dengan memperbanyak ajir/tonggak yang dipancangkan di sawah. Sifat hama ini sangat menyenangi sesuatu yang bersifat menjulur/tegak/muncul, untuk ia bertengger. Pancangkanlah ajir dari bambu atau kayu sebanyak mungkin di sawah untuk menekan kerugian akibat hama ini.

19-large

Untuk hama wereng, jika ada indikasi serangan taburkan abu bekas pembakaran terutama pada telur dari hama ini. Dari pengalaman, penaburan abu ini akan lebih efektif pada saat telur wereng telah menetas.

II. ”SRI” DAN MASA DEPAN PETANI.

Dari berbagai informasi dan laporan yang kami dapatkan tentang penerapan penanaman padi organik ”SRI” baik di negara-negara lain maupun di Indonesia, saat ini telah terjadi lonjakan hasil produksi yang cukup fantastis. Di Jabar, petani belum menerapkan prinsip-prinsip secara utuh ( karena berbagai faktor budaya, kebiasaan dan non teknis lainnya ) namun demikian dari data produktivitas rata-rata hasil produksi sudah ada peningkatan 50 % sampai 300 %. Sedangkan di negara lain terutama di Madagaskar, peningkatan produksi mereka sudah mencapai 500 %, dari semula rata-rata 2,6 ton/ha, saat ini sudah ada yang mencapai 21 ton/ha.

20-large

Banyak pihak mengakui bahwa lahan-lahan sawah di Jabar paling subur dibandingkan lahan di daerah lainnyadi Indonesia,apalagi dibandingkan dgn negara lain. Dengan potensi lahan tersebut bila metoda ”SRI” dapat diterapkan secara utuh produksi padi di Jabar diprediksi dapat mencapai rata-rata 30 ton/ha. Bila hal itu dapat dicapai, selain dapat meningkatkan kesejahteraan para petani, juga akan ikut meningkatkan harkat, martabat bangsa. Dan peran Jabar tidak saja sebagai lumbung padi nasional, tetapi tidak mustahil menjadi satu-satunya propinsi yang dapat mengekport beras pada tahun 2010.

Harus diakui bahwa untuk mencapai kemajuan itu tidak mudah, para petani di Jabar termasuk yang paling sulit menerapkan konsep padi ”SRI”. Hal-hal yang menjadi penyebabnya antara lain:

1. Petani umumnya enggan untuk melaksanakan hal-hal yang baru mereka ketahui, termasuk metoda penanaman padi organik ”SRI”. Selain itu mereka merasa belum yakin dan ingin melihat contoh terlebih dahulu.

2. Ada semacam fanatisme di petani untuk selalu menggunakan pupuk maupun obat-obatan kimia atau ”anorganic syndrom”, dan sudah termanjakan dengan cara-cara pengolahan praktis serta biaya pupuk & pestisida yang boleh dipinjam sampai panen.

3. Petani-petani yang mengolah sawah saat ini sebagian besar tidak memiliki sawah sendiri, mereka umumnya penggarap saja. Mereka menganggap cara baru beresiko, mereka sudah puas dan menerima saja hasil yang dicapai sekarang sebagai kodrat/nasib mereka.

4. Masih ada anggapan masyarakat petani yang memandang penanaman padi hanya sebagai kegiatan tradisional petani untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga saja. Karena kenyataannya selama ini kegiatan penanaman padi tidak memberikan keuntungan yang memadai. Kalau saat ini petani masih melaksanakan penanaman padi, itu semata-mata agar mereka tidak perlu membeli beras dan juga mereka tidak memiliki kegiatan yang lain.

Sesungguhnya keengganan petani tadi untuk menerapkan metoda ”SRI” dalam bercocok tanam padi sangatlah disayangkan, mengingat metoda tersebut telah terbukti memberikan peningkatan produksi padi petani dan sekaligus pendapatan mereka. Sebagai ilustrasi kami sajikan simulasi perhitungan usaha pola bersawah ”SRI” untuk beberapa alternatif hasil produksi.

Analisa produksinya dapat digambarkan sebagai berikut :

Untuk produksi 6 ton per gabah kering pungut ( GKP ) per Ha, maka produksi malai per rumpun adalah :

6 ton GKP = 6000 Kg GKP =100.000 rumpun.(jarak tanam 30 Cm).

6 Kg GKP = 100 rumpun.

60 g GKP = 1 rumpun = (60/25) x (1000/200)/0,7 = 18 malai, jadi 1 rumpun = 20 malai

Untuk produksi 12 ton GKP per Ha, produksi malai per rumpun = 40 malai.

Untuk produksi 18 ton GKP per Ha, produksi malai per rumpun = 80 malai.

Analisa Target Pendapatan Petani Sri/Ha :

GKP = Gabah Kering Pungut

GKG = Gabah Kering Giling

Konversi GKG : GKP = 0,80 : 1

Beras : GKG = 0,65 : 1 (Konvensional/Non SRI)

0,70 : 1 (SRI)

Harga : GKG Konvensional = Rp 2.000,-Kg

GKG SRI = Rp 2.500,-/Kg

Beras SRI Organik = Rp 7.000,-/Kg

Penjualan untuk 6 ton GKP

Pemasukkan :

0,80 x 0,70 x 6.000 x Rp 7.000,- = Rp 23.520.000,-

Pengeluaran :

Benih 5 kg = Rp 40.000,-

Kompos mikroba 7 ton = Rp 2.800.000,-

Mikroba 1.200lt = Rp 200.000,-

Pestisida hayati ( organik ) 200 lt = Rp 200.000,-

Traktor ( pengholahan lahan ) = Rp 1.000.000,-

Biaya penanaman ( tandur ) = Rp 360.000,-

Biaya pengolahan&penyiangan = Rp 1.200.000,-

Biaya supervisi = Rp 600.000,-

Biaya inspeksi = Rp 600.000,-

Biaya pemanenan = Rp 600.000,-

Biaya pengeringan padi = Rp 450.000,-

Biaya penggilingan padi = Rp 1.500.000,-

Biaya Karung = Rp 300.000,-

Biaya pengangkutan ke penggilingan = Rp 50.000,-

Total Biaya operasional = Rp 9.900.000,-

Penghasilan bersih/Ha

Rp 23.520.000,- – Rp 9.900.000,- = Rp 13.620. 000,-/panen

a) Jika hasil panen 6 ton dan penggarapan sawah tersebut dengan sisterm bagi hasil antara pemilik dan penggarap maka pendapatan masing-masing pemilik dan petani penggarap sebagai berikut :

Panen 2 x setahun :

Hasil panen 6 bulan Rp 13.620.000,- maka rata-rata penghasilan tiap bulannya adalah Rp 13.620.000,-: 6 = Rp 2.270.000,- Dengan demikian penghasilan pemilik dan penggarap adalah Rp 2.270.000,- = Rp 1.135.000,-/bulan.

2

b) Jika hasil panen 12 ton GKP dan penggarapan sawah tersebut dengan sistem bagi hasil antara pemilik dan penggarap maka pendapatan masing-masing pemilik dan petani penggarap sebagai berikut :

Panen 2 x setahun :

Hasil panen 6 bulan : 0,80 x 0,70 x 12.000 Kg x Rp 7.000,- = Rp 47.040.000,- dikurangi biaya operasional Rp 12.100.000,- = Rp 34.940.000,- maka rata-rata penghasilan tiap bulannya adalah Rp 34.940.000,-: 6 = Rp 5.823.300,- Dengan demikian penghasilan pemilik dan penggarap adalah = Rp 2.911.650,-/bln.

Catatan :

(1) Dari simulasi perhitungan tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita bahwa usaha pertanian padi bisa memberikan penghasilan cukup bagus baik bagi pemilik, penggarap, apalagi bagi petani yang memiliki sawah dan menggarapnya sendiri.

(2) Hasil panen sebesar 6 ton/Ha dalam satu kali panen merupakan hasil awal dan akan terus meningkat selama petani/penggarap disiplin dalam menerapkan sesuai dengan petunjuk metoda penanaman padi ”SRI”. Dengan kesuburan lahan yang sangat luar biasa, di wilayah Jawa Barat ( khususnya di Priangan ) hasil produksi padi diprediksi dapat mencapai 30 ton/ha ! .Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Depatemen Pertanian produksi padi nasional rata-rata hanya 3,7 ton/ha.

(3) Petani penggarap dapat memperoleh penghasilan tambahan dari upah kerja yang telah dialokasikan, jika petani tersebut mengerjakan serta ikut bekerja menggarap sawah tersebut. Selain itu petani dapat memperoleh hasil tambahan jika ia rajin menanam palawija di sekitar pematang sawah.

(4) Penanaman padi dengan metoda ”SRI” memiliki manfaat dan keunggulan lain, yaitu :

· Ramah lingkungan.

· Beras lebih pulen dan tidak cepat basi.

· Harga jual lebih mahal dari beras konvensional (anorganik).

III. PENGEMBANGAN BUDI DAYA PADI ORGANIK ”SRI”

Meskipun padi organik ”SRI” ini merupakan solusi dan masa depan bagi petani, baik petani yang memiliki sawah dan menggarap sendiri atau pemilik sawah dengan petani penggarapnya, tetapi kami menyadari bahwa untuk mengembangkannya tidak mudah. Cukup banyak kendala serta tantangan, baik dari sisi para petani maupun masih kurangnya perhatian dan dukungan pemerintah. Dari sisi petani, selain pemahaman konsep, kultur, kemauan, motivasi serta kerja keras petani yang tidak sama, juga sistem bisnis atau tata niaga baik pada pupuk-pestisida kimia maupun padi atau beras yang sudah berjalan bertahun-tahun menjadi kendala tersendiri. Diperkirakan metoda ”SRI” ini akan memporak porandakan kemapanan sistem bisnis dan tata niaga pupuk dan pestisida kimia, sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada pihak-pihak yang merasa terganggu kemapanan bisinisnya oleh metoda ”SRI” ini.

Bagaimanapun perubahan harus dilakukan untuk masa depan bangsa ini, dan dengan niat yang tulus untuk membantu nasib para petani, pemilik sawah serta masa depan pertanian serta bangsa kita agar tidak terus menerus hanya bisa mengimpor beras saja, kami akan terus mengsosialisasikan metoda SRI kepada para petani dan pemilik sawah. Karena di dunia saat ini ”SRI” sudah berkembang pesat, kami tidak ingin petani dan bangsa ini semakin tertinggal dan bergantung pada bangsa lain dalam hal pengadaan pangannya. Padahal kita memiliki potensi lahan yang lebih subur dibanding negara manapun. Prinsip kami, petani harus sejahtera dan mandiri. Petani harus menjadi contoh bagi komponen masyarakat lainnya dalam hal kerja keras serta kemandirian.

Kondisi para petani saat ini, mereka umumnya belum mandiri, baik dari sisi permodalan maupun menentukan harga jualnya. Kami mengetahui bahwa saat ini hampir semua petani membeli secara kredit seluruh kebutuhan saprotan (sarana produksi pertanian), baik dari KUD, agen pupuk atau bandar padi ( tengkulak ). Dengan pemberian full kredit tersebut secara tidak sadar telah menjerumuskan petani pada sikap yang manja, keenakan dan akhirnya menjadi kebiasaan. Tidak sedikit petani yang terjebak pada kondisi tersebut, akibatnya jika hasil panen baikpun petani akan terus membeli secara kredit, mereka tetap tidak mau membayar kontan. Keuntungan yang didapat digunakan untuk kebutuhan konsumtif, sementara bila hasil panen jelek tidak mustahil petani malahan memiliki sisa utang.

Untuk mencapai kesejahteraan dan kemandirian, diperlukan pengorbanan waktu, biaya dan siap bekerja keras. Petani tidak boleh lagi ingin untung tapi enteng dan berharap hasil panen akan baik tanpa upaya yang maksimal. Untuk membantu petani mencapai tujuan tersebut kami memiliki program pengembangan padi organik dengan metoda ”SRI” sebagai berikut:

(1) Penyediaan pupuk organik, mikroba (starter) serta pestisida organik

(2) Bimbingan dan pendampingan teknis langsung kepada petani

(3) Jika petani mengalami kesulitan penjualan, kami dapat membantu mencarikan pembeli hasil produksi padi organik ”SRI” dengan harga yang pantas sesua varietas padi yang diminati pasar.

IV.SYARAT DAN KUNCI KEBERHASILAN METODA SRI

Meskipun bersawah secara ”SRI” tidak memerlukan air yang banyak dan kontinyu bahkan dapat menghemat pemakaian air 50% dari pemakaian air bersawah secara tradisional, namun jaminan ketersediaan air setiap saat mutlak diperlukan karena mikro organisme yang diinvestasikan pada lahan sawah memerlukan kondisi tanah yang selalu harus lembab sehingga dapat berperan dan berfungsi maksimal dalam menguraikan senyawa komplek menjadi senyawa yang lebih sederhana untuk dapat diserap oleh bulu-bulu akar padi. Peran survey awal pemilihan lokasi sawah menjadi hal yang sangat strategis dalam hal keberhasilan metoda ”SRI” ini. Hampir semua hama dan penyakit padi yang ada dapat dicegah dan ditanggulangi secara organik ( MOL & POL ), namun ketidak tersediaan air yang memadai belum ada cara yang dapat menggantikan peran air apalagi membuatnya secara artifisial. Agar program atau rencana ”SRI” berhasil secara agrobisnis maka perlu dipilih lokasi sawah yang tersedia air irigasinya paling tidak untuk 2 kali musim tanam, tidak terkena limbah industri serta dekat dengan akses infrastruktur jalan kendaraan roda empat.

Dari gambaran analisa pendapatan dan produksi, penanaman padi organik ”SRI” betul-betul merupakan harapan dan masa depan petani. Secara bisnis, usaha tersebut bisa memberikan keuntungan, baik bagi pemiliki maupun penggarap. Apalagi bagi petani yang memiliki dan menggarap sawahnya sendiri. Syaratnya, petani terlebih dahulu harus memahami secara mendalam metoda ”SRI”, bersedia bekerja keras dan scara konsisten menerapkan metoda tersebut dalam budi daya padi. Dalam kondisi kehidupan masyarakat yang terpuruk khususnya masyarakat tani saat ini, masih ada secercah harapan akan masa depan petani kita.

Metoda ”SRI” bukan sesuatu yang istimewa apalagi aneh walaupun bisa menghasilkan padi sangat luar biasa, 2 sampai 4 kali dari hasil yang dicapai petani kita saat ini. Bukan pula klenik karena semua dikerjakan secara logis dan alami. Metoda ”SRI” diperoleh melalui proses penelitian yang memakan waktu puluhan tahun, jadi sangat rasional dan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Misalnya saja, mengapa harus menggunakan pupuk kompos organik, mengapa jarak tanam harus diatas 25 cm, penanaman harus tunggal, dan lain-lainnya, semua bisa dijelaskan dan bisa diterima dengan nalar kita. Sementara petani kita saat ini umumnya menanam padi tanpa berfikir apa-apa, hanya melanjutkan kebiasaan cara penanaman sebagaimana pendahulunya.

Dan kalau boleh jujur, petani saat inipun sebenarnya tidak seutuhnya melanjutkan tradisi leluhurnya, misalnya saja penanaman bibit tunggal dan pemberian bahan organik dalam bentuk pupuk kandang dan memasukan kembali jerami ke dalam sawah, sebenarnya sudah dilakukan petani kita puluhan tahun yang lalu. Justru petani kita saat ini tidak konsisten melanjutkan tradisi leluhurnya sehingga hasil padi mereka dari tahun ketahun terus menurun. Jadi, pada dasarnya metoda ”SRI” ini sebenarnya melanjutkan kebiasaan leluhur kita dengan penyempurnaan lebih lanjut, sesuai dengan hasil penelitian para ahli di luar Indonesia, yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan petani kita. Kita harus mengakui bahwa penelitian pertanian di Indonesia ini masih sangat lemah, padahal negara kita jauh lebih subur dibandingkan dengan Madagaskar, tempat penelitian ”SRI” pertama kali dilakukan.

Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal maka dalam mengimplementasikan metoda SRI ada hal-hal teknis dan non teknis yang harus diketahui dan dipahami para petani. Hal-hal teknis ada yang mutlak harus dilakukan, serta hal yang boleh diubah sesuai dengan situasi kondisi. Hanya saja bila perubahan itu dilakukan, meski ada peningkatan tetapi hasilnya tidak seoptimal bila petunjuk-petunjuk ”SRI” dilaksanakan seutuhnya. Sedangkan persyaratan non teknis yang mutlak harus mereka miliki diantaranya:

(1) Petani harus memilki motivasi untuk maju dan berubah dengan tekad yang kuat dalam rangka memperbaiki kehidupan dan kesejahteraannya.

(2) Petani bersedia bekerja keras karena dengan metoda ”SRI” akan membuat pekerjaan lebih banyak, serta harus ulet sehingga tidak cepat putus asa bila mendapatkan tantangan dalam melaksanakan kegiatan penanaman padinya.

(3) Petani harus mau untuk terus belajar, jangan miskin pengetahuan dan informasi serta mau bertanya sana sini agar dapat menambah pengetahuan dan wawasannya.

(4) Petani jangan mudah tertarik serta terjebak dengan harga saprotan yang murah, persayaratan pembayaran yang ringan tanpa memperhitungkan akibat-akibat yang lebih jauh baik pada tanamannya maupun kemandiriannya.

(5) Petani tidak boleh terkecoh dengan informasi yang menyatakan bahwa kompos bisa dicampur dengan pupuk kimia, atau pupuk organik cair saja sudah cukup untuk menyuburkan tanaman.

Kunci utama metoda ”SRI” terletak pada konsistensi petani dalam melaksanakan aturan serta petunjuk yang telah digariskan, tetapi bila kondisi tidak memungkinkan maka petani masih bisa mengubahnya. Untuk itu mereka harus mengetahui hal-hal apa yang mutlak, yang bisa digantikan, serta yang sama sekali tidak diperbolehkan. Pupuk dan pestisida sintetis (kimia) mutlak tidak boleh digunakan, pupuk organik cair masih boleh tidak digunakan, tetapi pupuk organik kompos mutlak harus digunakan. Karena itu petani SRI tidak boleh terkecoh, dengan informasi yang menyebutkan bahwa pupuk organik akan lebih baik bila dicampur dengan pupuk kimia, atau pupuk organik cair saja sudah cukup tanpa harus menggunakan kompos. Karena dari pengalaman terbukti tanaman akan sangat baik bila menggunakan pupuk kompos organik tanpa unsur kimia sedikitpun seperti yang dianjurkan dalam metoda ”SRI”.

Yang harus di waspadai, masyarakat kita yang latah dan gemar meniru (menjiplak) tidak mustahil akan mendompleng sesuatu yang sedang populer atau laku. Misalnya saja label organik yang ditawarkan untuk produk pupuk mungkin saja benar, tetapi seberapa besar kandungan mikrobanya sehingga memenuhi syarat untuk digunakan dengan hasil sesuai harapan. Pada dasarnya pupuk organik kompos yang diberikan pada saat awal sudah memadai asalkan jumlahnya cukup, tetapi karena kebiasaan memberi pupuk lebih dari sekali, petani boleh menambahkan pupuk organik cair sebagai pelengkap saja. Petani perlu mengetahui mengapa pupuk organik kompos begitu mutlak harus digunakan, karena ada beberapa kebaikan pupuk organik kompos yang tidak bisa tergantikan, diantaranya:

a) Memperbaiki struktur tanah

Tanah yang baik bagi tanaman teksturnya harus remah, pori-porinya besar sehingga memudahkan proses aerasi (keluar masuknya udara/gas di dalam tanah), serta mudah menyerap dan menyimpan air. Kompos dan pupuk organik kompos memiliki tekstur seperti itu.

b) Menyuburkan tanah

Tanah yang subur adalah tanah yang mampu memberikan nutrisi dan hara bagi tanaman secara alami. Kompos dan pupuk organik kompos adalah sumber makanan sekaligus media bagi untuk berkembang biaknya Mikro Organisme (MO) yang akan mengurai bahan organik menjadi nutrisi dan hara bagi tanaman. Selain itu kompos dan pupuk organik kompos mampu menahan/menyimpan air dan nutrisi yang tidak digunakan. Dengan demikian kompos dan pupuk organik kompos dapat dikatakan sebagai pabrik dan bank nutrisi bagi tanaman.

c) Menambah volume tanah

Selama ini tanaman menyerap makanan dari tanah dan pupuk kimia. Dapat kita bayangkan bahwa secara perlahan-lahan volume tanah akan berkurang jika tidak pernah ditambah. Dengan pemberian kompos serta pupuk organik kompos setiap penanaman, maka secara perlahan volume tanah akan bertambah.

d) Menciptakan musuh alami bagi hama

Penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan penggunaan pestisida alami akan menciptakan lingkungan alami yang merangsang munculnya binatang-binatan sebagai Musuh Alami (MA) bagi hama tanaman. Laba-laba, capung, urung adalah sebagian dari binatang yang adapt berfungsi menjadi MA bagi hama.

V. padi organik sri adalah cara bertani seksama dan alami ( CBSa )

Buku petunjuk ini disusun dengan tujuan untuk memberikan tuntunan lahir batin guna mencapai kesejahteraan dan kemaslahatan dunia akhirat dengan lindungan dan Ridlho Allah SWT. Selain petunjuk teknis yang telah diuraikan, ada beberapa hal yang patut direnungkan oleh kita semua, termasuk para petani yaitu :

1) Negara kita adalah negara agraris yang dikaruniai kekayaan dan kesuburan luar biasa, tetapi kita masih harus mengimpor kebutuhan perut, seperti beras, kedele, jagung, dll. Sementara kemiskinan , pengangguran serta keterpurukan menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari.

2) Berbagai musibah yang berasal dari alam terus menerus menimpa bangsa ini, seakan-akan Allah ingin memberikan peringatan serta menurunkan azab kepada kita, agar menjadi sadar atas segala kesalahan dan kekurangan serta perilaku kita yang tidak mensyukuri karunia yang telah diberikan kepada bangsa ini.

3) Mayoritas bangsa ini hidup dari usaha tani dan notebene adalah kaum muslimin. Kehidupan mereka umumnya masih jauh dari sejahtera baik lahir maupun batin, tidak sedikit orang masih kelaparan di tengah orang-orang yang kekenyangan.

Hal-hal tersebut merupakan indikasi sekaligus bukti betapa ironisnya negeri ini , sebagai akibat tidak mensyukuri karunia Allah yang telah memberikan alam yang sedemikian kaya, tidak adanya solidaritas sosial diantara sesama, bersikap dzolim terhadap alam dan sesama. Dalam melaksanakan cara bertani kita telah keluar dari pakem nenek moyang kita yang akrab dengan alam. Alam telah kita perlakukan hanya sebagai obyek dan benda mati semata. Selama ini kita hanya mau meminta tapi tidak pernah memberi, mengambil tapi tidak pernah mengembalikan, mengeksploitasi tapi tidak pernah merehabilitasi. Rezeki yang kita dapatkan dari kegiatan usaha pertanian, masih belum seluruhnya dikeluarkan untuk berzakat. Ada bagian yang seharusnya untuk kaum miskin tidak kita keluarkan.

Dengan uraian yang cukup lengkap ini, diharapkan petani dapat mengerti, memahami serta melaksanakannya, baik hal-hal yang bersifat teknis maupun nilai-nilai keislaman yang harus menjadi ciri petani SRI. Meskipun metoda SRI diyakini dapat meningkatkan kesejah teraan dan kemandirian petani, hendaknya disertai dengan tata cara pelaksanaan yang islami. Mulailah usaha tani kita dengan niat yang tulus dan senantiasa memohon pada Allah agar usaha yang akan dilaksanakan selalu dalam perlindunganNya. Dan bersykurlah kepada Allah bila kita akan melaksanakan panen padi, dengan tidak melupakan bahwa dalam rezeki ( padi ) tersebut melekat hak orang lain yang wajib dikeluarkan.

Di tengah keterpurukan bangsa ini, diharapkan petani mampu menjadi contoh dan keteladanan dalam hal kerja keras, keuletan dan kemandirian serta nilai-nilai islami agar bangsa ini segera keluar dari kesulitan serta musibah yang terus menerus menerpa kita. Petani diharapkan menjadi lokomotif kemajuan dan jati diri bangsa yang bisa kita mulai dari pedesaan. Karena Allah tidak akan merubah nasib bangsa ini, jika kita sendiri tidak mau merubahnya. Semoga gambar-gambar di bawah ini akan menjadi inspirasi serta memotivasi para petani untuk mewujudkannya.

Meningkat terus hasil padi...

Meningkat terus hasil panen padinya...

Meningkat Cara Bertaninya

Meningkat Cara Bertaninya

Meningkat Cara Pengolahan Lahannya

Meningkat Cara Pengolahan Lahannya

Meningkat Ekonominya...

Meningkat Ekonominya...

VI. MENOREH SEJARAH.

Berdasarkan pengalaman empiris di lapangan di berbagai tempat di Jawa Barat dan di Yogyakarta dalam kurun waktu lebih 2 tahun, secara sosio-ekonomi baik petani penggarap maupun petani pemilik sawah, metoda ”SRI” baru memberikan impak dan memiliki daya pemikat untuk berkembang dan meluas diikuti oleh para petani tadi jika diterapkan secara ”Corporate Farming”. Corporate Farming yang dimaksud adalah pengelolaan sawah diambil alih langsung secara keseluruhan, petani penggarap menjadi pekerja di lahan sawah ybs, mendapat upah sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanaka dan rate yang berlaku setempat, sedangkam pemilik sawah mendapat sewa lahan sawah yang dipakai. Untuk mencapai nilai ekonomis di satu hamparan atau lokasi minimum dicapai areal 5-10 Ha untuk jangka waktu minimum 5 tahun dengan pembayaran sewa lahan ke pemilik dilakukan setiap awal tahun penggarapan. Agar termonitor secara total hari per hari perkembangan budidaya ”SRI” yang benar dan optimum, setiap lokasi ( 5-10 Ha ) ditempatkan seorang supervisor SRI yang telah berpengalaman sekaligus sebagai pendamping para petani para petani di lokasi tersebut. Jadi dengan ”Corporate Farming”, petani penggarap mempunyai pendapatan yang rutin, demikian pula petani pemilik mendapat hasil sewa yang pasti dan lahan sawahnya akan semangkin subur, sedangkan pengelola memperoleh hasil dari penjualan beras organik yang setiap panen cenderung meningkat. Dari pengalamn 2 tahun tersebut jika kondisi minimum ”SRI” terpenuhi,maka hasil terendah pada awal penerapannya di suatu lokasi adalah sekitar 6ton gabah kering panen per Ha per musim tanam( 6 ton GKP/Ha/MT ). Hasil ini akan terus meningkat sesuai dengan meningkatnya unsur organik tanah dan hara tanah paling sedikit 1 ton GKP/Ha setiap musim tranam berikutnya.

Tujuan budidaya padi organik ”SRI” bukan hanya mengutamakan pada keuntungan dan peningkatan produksi padi saja tetapi memiliki misiyang lebih luas lagi yaitu tercapainya keseimbangan lingkungan dan pemulihan lahan sawah serta budidaya padi yang lebih akrab dan sesuai dengan alam padi itu sendiri. Oleh sebab itu, para investor ”SRI” selain akan mendapatkan keuntungan juga memperoleh nilai-nilai di atas.

Sistem penyewaan sawah yang berlaku di masyarakat petani pada umumnya satuannya adalah tahun, bukan musim. Untuk jangka waktu 5 tahun pembayaran sewa dilakukan per awal setiap tahun penyewaan dan kesemuanya dilakukan berdasarkan Surat Perjanjian Sewa-menyewa Lahan Sawah, ditandatangani oleh Pemilik (kuasa pemilik) dan Pengelola (penyewa) disaksikan oleh aparatur desa setempat (lurah) di atas materai.

Dari analisa Cost/Benefit memberikan gambaran bahwa diperlukan modal kerja dari investor sebesar Rp 151.525.000,- diproyeksikan keuntungan bersih total sebesar Rp 103.275.000,- dalam kurun waktu 1 tahun. Untuk 5 Ha investor diproyeksikan akan memperoleh keuntungan selama 3 tahun sbb:

Tahun I : investasi Rp 151.525.000,- keuntungan Rp 51.637.500,- 34%

Tahun II : investasi Rp 161.625.000,- keuntungan Rp 85.787.500,- 53%

Tahun III: investasi Rp 171.725.000,- keuntungan Rp 119.937.500,- 70%

Sedangkan jika investor mulai dengan luas yang lebih besar maka proyeksi keuntungan yang akan diperoleh pada tahun pertama sbb:

Luas 5 Ha : investasi Rp 151.525.000,- keuntungan Rp 51.637.500,-

Luas 10Ha : investasi Rp 303.050.000,- keuntungan Rp 103.275.000,-

Luas 20Ha : investasi Rp 606.100.000,- keuntungan Rp 206.450.000,-

Luas 30Ha : investasi Rp 909.150.000,- keuntungan Rp 309.725.000,-

Selain keuntungan finansial seperti tergambar di atas, agrobisnis padi organik ”SRI” meskipun masih berskala kecil ( 5 Ha ) akan memberikan benefit non material kepada investor & pengelola sbb:

1. Membuka cakrawala baru buat generasi muda bahwa berusaha di sawah organik dapat menguntungkan.

2. Ada suatu rasa kepuasan dapat berperan mempelopori langsung sebagai anak bangsa memajukan para petani yang selama ini berada di dasar piramida kemiskinan.

3. Turut serta secara aktip memulihkan kesuburan lahan sawah yang pada saat ini umumnya sudah sangat lelah oleh deraan penerapan persawahan kimia yang tidak terkendali.

4. Memberikan contoh harkat kebebasan petani yang hakiki dari berbagai pihak luar non agraris yang selama ini justru dominan mengatur dan menentukan nasib para petani.

5. Mempelopori langsung membuka peluang menjadikan negeri ini menjadi pengeksport beras organik di dunia.

Pertanyaan yang selalu menggelitik bagi para investor adalah ; Kalau memang metoda ”SRI” ini begitu menjanjikan, mengapa sampai saat ini para petani belum banyak menerapkannya ?. Mengapa pula instansi yang bertanggung jawab seperti Dept.Pertanian tidak mengarah ke sana ?. Jawabannya bisa sangat panjang dan penuh berisi berbagai argumentasi kepentingan & kebijakan yang kelihatannya belum mau dikoreksi. Namun satu hal yang paling mendasar dan pasti yaitu secara struktural dan sistematis kondisi sosial-ekonomis masyarakat petani di pedesaan saat ini sangat sulit dan memprihatinkan sehingga tanpa ditopang dan dimulai oleh tangan-tangan kepeloporan hampir tidak mungkin mereka dapat bangkit dan berubah apalagi berinovasi untuk peningkatan produksi padi. Untuk bertahan hidup saja para petani sudah sangat sulit saat ini.

Jelas sudah negeri ini baru dapat mulai bicara martabat jika pangan pokok (beras) rakyatnya tersedia cukup dan berlimpah. Peningkatan produksi padi telah terbukti beberapa dekade ini gagal dicapai dengan mengutak-atik bibit, takaran pupuk kimia bahkan hibridisasi tanaman padi. Justru yang terjadi sampai hari ini adalah penurunan produksi padi karena penyusutan lahan persawahan, merosotnya proktivitas sawah, makin rentannya tanaman padi terhadap hama & penyakit, makin kritisnya ketersediaan air irigasi yang kontinyu dan tidak memiliki akses pasar. Keadaan menjadi sangat mengkhawatirkan ketahanan pangan terutama ketersediaan beras negeri ini ketika negara-negara penyuplai beras dunia seperti Thailand, Vietnam, China dll memberikan sinyal kuning akan adanya pembatasan suplai dari mereka ditahun-tahun mendatang karena mengantisipasi gejala perubahan iklim global dan pengamanan stok beras nasional mereka masing-masing.

Kinilah waktunya untuk berbuat sesuatu perubahan untuk peningkatan produksi padi yang lebih tinggi, lebih baik mutunya, lebih sehat dan berkesinambungan. Perubahan membutuhkan dan menuntut kepeloporan. Apakah kita mau menoreh sejarah bahwa negeri ini adalah bangsa yang besar ?. Atau kita biarkan budaya instan membenamkan negeri yang penuh karunia Sang Maha Pencipta ini tetap terus berputar mengarah ke bawah dalam spiral kehinaan. Dimana panggilan hidup kita ?. Itu pilihan !!!.

56 Balasan ke Padi Organik SRI

  1. Eko Hardjanto PHP=POPT mengatakan:

    alah mak ingin sekali awak sebagai pengamat hama membangkitkan satu sata kelompok tani seperti ini bagus nian punya kelompok tani punya website

  2. comera_bersatu mengatakan:

    Salam tuk Bapak Eko Hardjanto disini kami membuat blog ini untuk menambah ilmu… jadi kami sungguh berharap bisa bekerja sama dengan pihak lain termasuk juga dengan bapak Eko Hardjanto sebagai pengamat hama tanaman yang sangat kami butuhkan saat ini karena merosotnya hasil tani kami oleh hama penyakit tanaman… jadi kami menerima masukan2 n saran supaya kelompok tani kami bisa lebih maju dan juga pengunjung blog kami….

  3. sulipartono mengatakan:

    Pengalaman saya semoga menjadi inspirasi bagi petani lain tentang metode SRI,segeralah pakai metode sri karena akan bersemangat,hasil naik 100% pada musim ke tiganya.kotoran ternak terpakai maksimal, limbah jerami sudah otomatis dan kalau tidak merasa jijik buatlah kompos dari limbah makan kita(tinja)tentu saja secara periodik dikala musim kemarau jadi semua tidak ada yang terbuang.jangan heran dengan metode sri hasil 12 ton GKG/ha.lebih lebih sekarang ada varietas inpari 6 jete yang berpotensi hasil tinggi 12 ton/ha (saya lagi mencobanya)dari BB padi sukamandi.tapi saya berharap tabahlah menghadapi tantangannya dari sesama petani yang kadang dari teman kita seperti sudah tidak waras, mulai kapan, sarjana kok turun sawah, sarjana kok ngarit(cari rumput), tidak sayang tanah (jaraknya bisa untuk sembunyi kerbau katanya) dan masih banyak lagi sudah lupa.sekarang kutinggalkan pekerjaan lamaku (kuli sebuah perusahaan peternakan).hari hariku sekarang bergelut dengan lumpur sawah yang bercampur bahan organik, pensilku adalah sabit untuk sapi simental kesayanganku yang memberiku gaji setiap tahun,menyuburkan sawahku memberi kontribusi setiap 5 bl sekali.jadilah interpreneur pertanian,sukses.

  4. comerabersatu mengatakan:

    memang betul pak salipartono, seharusnya petani kita harus mengarah pada itu, tapi kalau bisa coba bapak beri rincian hasil produksi yang bapak coba mungkin lebih bermanfaat dan berdaya guna sebagai pedoman untuk petani lainnya, trims….

  5. wongtani mengatakan:

    LUAR BIASA…..SUKSES SELALU PAK..

  6. sulipartono mengatakan:

    Pengalaman saya sawah adalah bos yang gaji kita, maka harus bekerja keras untuk menyenangkan bos.bos perlu makan tanpa racun, ya to…makan organik kohe minimal 5 ton/ha sebagian masih beli dalam bentuk mentah(murah),jangan serakah jadi jerami padi kita kembalikan.faeces kita (septiktank)adalah mutlak di berikan juga satu tahun sekali(ambil pada musim kemarau) tentu semua bahan di olah dengan aktifator. limbah dapur dan hama keong sebagai MOL.hasil varietas logawa (potensi hasil dari BB padi sukamandi)pertama masih 7 ton GKP/ha, kedua 10 ton GKP/ha, ketiga 13 ton GKP/ha.maaf kementar yang kemarin bukan GKG tapi GKP.satu hal lagi sering datang ke bos ada yang mengganggu hidupnya atau tidak, ada ? mimba turun tangan (masih beli)

  7. comerabersatu mengatakan:

    kami disini juga sama bapak sulipartono cara hidup bertani di sini kebanyakan kami adalah petani penggarap… Tapi di sini kami masih menyimpan sejuta harapan di bidang pertanian ini, walau areal pertanian yang masih kurang, yang menimbulkan segudang pertanyaan “kenapa di tanah yang subur ini kita belum bisa bersaing dalam mencapai kesejahteraan hidup petani”.. disinilah kami sangat berharap agar petani-petani di indonesia bisa berbagi ilmu pengetahuan di bidang pertanian kami coba membuka wadah di blog ini sebagai sarana untuk mengubah pola fikir petani, biar petani-petani di indonesia bisa makmur dalam hidup..Walau masih banyak kekurangan-kekurangan di sini kami minta kerja sama biar blog ini lebih sempurna… MAJULAH PETANI INDONESIA, DI LAHAN SUBUR INI KITA GANTUNGKAN HARAPAN YANG LEBIH NYATA…..

  8. comerabersatu mengatakan:

    MARI KITA BANGUN INDONESIA DI BIDANG PERTANIAN, kerjasamanya kami harapkan agar kita bisa bangkit.. terimakasih banyak untuk saudara kami wongtani…Mudah-mudahan kami termotifasi lagi untuk mengembangkan pertanian di Indonesia…

  9. sulipartono mengatakan:

    Andri wongso(motivator)kalau anda lunak pada diri anda maka kehidupan akan keras pada diri anda,tetapi kalau anda keras pada diri anda kehidupan akan lunak kemudian.Sebagai petani semua syarat kebutuhan tanaman MUTLAK harus ada,mudah tersedia,harga murah.saya yakin limbah dari ternak sangat murah. Ternaknya bisa saja dari bantuan pemerintah atau milik sendiri.sebetulnya tanah kita subur cuma sekarang tidak subur karena umumnya petani lemah pada diri sendiri yaitu mencari yang gampang saja contohnya pupuk kimia.lucunya walaupun harganya diatas langit tetap di beli.tetapi jangan lantas beralih keorganik dengan membeli pupuk organik karena menurut saya mahal. buat apa faeces, jerami padi, jerami kedelai dan apapun limbah organik dan kita manfaatkan balai2 penelitian yang menghasilkan bioaktifator atau perusahaan mikroba atau kalau mau ulet buat MOL.kita harus keras melatih disiplin dan ulet.

  10. suli partono mengatakan:

    Langkah saya untuk merubah dari kimia ke organik di mulai dari saya sendiri, petani lain atau teman saya sarankan jangan langsung ikut, boleh ikut tapi harus mau hasilnya turun dulu karena tanah masih sakit atau dalam taraf penyembuhan kedua semua yang berbau kimia mutlak di hilangkan di ganti dengan nabati.ketiga pola,jarak dan umur tanam. saya sendiri sudah lama menerapkan jarak lebar 27 x 27 dengan jumlah tanam satu satu, tetapi umur masih diatas 20 hari.sekarang saya sudah memendekkan umur 15 hari.sekarang padi var inpari 6 jete yang saya dapat dengan jajar legowo 2:1 27 x 27 x 50 1 batang/lubang sekarang umur 56 HST 25 – 40 batang/lubang.

  11. catur mengatakan:

    mohon kirimkan informasi dan penyedia cendawan untuk mengatasi wereng dan penggerek batabg padi. trimakasih

  12. catur mengatakan:

    kini banyak kelompok tani didirikan, penyuluh lapang banyak personil, tapi saat hama menyerang, atau terjadi permainan pupuk mengapa semua lari

  13. comerabersatu mengatakan:

    Sekarang ini kita hanya bisa mengambil yang positif saja, Pak Catur.. Kita sebagai petani jangan terpengaruh oleh ketidak mampuan dari PPL saat ini.. Masa kita yang sudah lama mengeluti bidang pertanian kalah sama PPL yang hanya bisa di bidang teori saja tapi untuk praktek beliau itu harus lebih banyak untuk mempelajari lokasi yang akan di praktekan, Jadi dari sekarang marilah kita bangun bidang pertanian kita dari kita sendiri untuk lebih mandiri tanpa berharap lebih banyak dari pihak lain… Moga dari sekarang mari ambil prinsip dari kita, untuk kita dari itu kata bisa berpikir untuk mengerjakan sesuatu dengan pemikiran kita sendiri…. Mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk membangun diri sendiri….

  14. comerabersatu mengatakan:

    Mengenai ini belum ada ilmu kami pak catur.. kemungkinan ekosistem di tempat bapak sudah terputus….

  15. Gunadi Cahyono mengatakan:

    “Salam kenal Pak Sulipartono”
    selamat dan sukses untuk kerja keras dan keuletan bapak. Meski semula dicemooh kurang waras dan melawan arus pola bertani padi pada umumnya, keteguhan dan kerja keras bpk telah terbukti memberi hasil yang semakin baik.Saya rasa apa yang bpk alami juga ditemui hampir di semua wilayah di Indonesia, karena petani kita merasa sdh cukup mapan dengan produksi padi meski sesungguhnya terus menurun kualitas dan kuantitas. saya harap kepeloporan bpk akan menginspirasi kaum muda atau sarjana kita yang banyak menganggur karena hanya mengejar lowongan kerja secara instan. Andai ada 100.000 orang indonesia yang berkarakter seperti bpk saya yakin tidak butuh waktu lama bangsa Indonesia akan makmur dan sejahtera dengan ketersedian bahan pangan melimpah secara mandiri. Sekali lagi selamat dan sukses atas kerja keras bpk, dan selamat menikmati anugerah Tuhan melalui karya nyata…. Bravo Petani Indonesia….!!!

    dari seorang penggemar dan pemerhati nafas kehidupan petani di wilayah Kab. Gunungkidul, DIY

  16. haykal mengatakan:

    salam kenal bapak pak Sulipartono, umur saya masih 21 tahun, saya baru memulai bertani, meskipun dari keluarga saya tidak ada satu pun yang berprofesi sebagai petani, yang jadi heranya, saya ditertawakan oleh teman2 saya dengan tekad saya mencoba untuk bertani, dan keinginan saya bertani dengan cara organik,. tapi dengan niat saya untuk bertani dengan cara organik, alhmdllh skrg sudah mulai bertani,.tapi saya punya pak,tanaman padi yang saya tanam itu lambat sekali pertumbuhanya, apakah harus saya semprot pupuk organik cair untuk merangsang tanaman padi saya?

    terima kasih, salam dari saya, haykal, bumiayu brebes jateng

  17. comera bersatu mengatakan:

    Saudara Haykal… Anda pertama kali mempraktekan tanam padi organik, karena effek dari pupuk organik pada tanaman kedua dan selanjutnya, jadi anda perlu bersabar dan dak usah minder dari bertani ini, mari sama-sama kita bangun pertanian di indonesia ini… Mudah-mudahan kita bisa mencapai tinkat kesejahteraan di bidang pertanian ini………Semoga Sukses………

  18. Boer Sima mengatakan:

    Saudara Haykal, sebagai pedoman berikut saya lampirkan Prosedur Bertani Organik dari Konsultan ahlinya, semoga membantu.

    BERTANI organik tidak boleh sembarangan atau asal-asalan. Tetapi, harus mengikuti sejumlah standar yang sudah ditentukan. Berkaitan dengan standar pertanian organik, ada tiga kategori yang harus ditaati pelaku, yakni harus dilakukan, boleh dilakukan, dan tidak boleh dilakukan. Standar tersebut berlaku untuk semua proses dan perlakuan, serta bahan yang dibutuhkan dalam bertani organik.
    Lokasi
    Lokasi harus bebas dari kontaminasi pupuk kimia dan pestisida kimia. Dalam hal lokasi, bertani organik boleh dilakukan di dalam rumah kaca/kassa (green house) atau di luar rumah kaca/kassa. Sedangkan yang tidak boleh dilakukan penentuan lokasi yang bisa mengganggu, merusak, atau bertentangan dengan lingkungan.
    Pemupukan
    Harus menggunakan pupuk organik, seperti kompos, pupuk alami (pupuk kandang, guano, limbah tanaman dll), abu, dan batuan alam (rock phosphat, kapur, dolomit ,dll). Meski demikian, masih dibolehkan menggunakan pupuk cair/mikroba asalkan tidak mengandung bahan kimia anorganik. Untuk mempertahan kesuburan dianjurkan memakai rotasi tanaman dan konsep konservasi tanah. Yang dilarang adalah menggunakan pupuk buatan/kimia. Selain itu, pemupukan tidak boleh memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Pupuk alami yang digunakan tidak boleh secara langsung, harus melalui proses dekomposisi dahulu.
    Benih/bibit tanaman
    Benih dan bibit tanaman yang digunakan harus sehat. Benih harus bebas dari pestisida kimia. Sedangkan bibit tanaman yang diberi perlakuan dengan pestisida kimia tidak dapat digunakan. Umumnya benih yang dijual di pasar menggunakan insektisida/fungisida. Karena pengaruhnya sangat sedikit, benih tersebut dapat digunakan. Bila memungkinkan, sebaiknya benih diproduksi sendiri. Bibit tanaman yang menggunakan insektisida atau fungisida tidak boleh digunakan. (Keterangan: benih adalah biji tanaman yang disiapkan untuk ditanam. Sedangkan bibit adalah benih yang sudah tumbuh atau bagian tanaman yang disiapkan untuk ditanam).
    Penyemaian
    Proses persemaian harus bebas dari pengaruh pupuk kimia, pestisida kimia, atau zat pengatur tumbuh (ZPT). Benih dapat ditanam langsung atau disemai terlebih dahulu. Tidak boleh menggunakan bahan kimia anorganik apa pun, termasuk zat pengatur tumbuh (ZPT).
    Penanaman
    Boleh ditanam di dalam rumah kaca/kassa atau ditanam di luar ruangan. Waktu tanam, jarak tanam, dll., sebaiknya dicatat secara tertib.
    Pengairan
    Air yang digunakan harus bebas dari pengaruh pupuk dan pestisida kimia. Harus didukung oleh sistem irigasi yang memadai. Air untuk penyiraman dapat menggunakan air limbah peternakan. Akan lebih baik lagi kalau air limbah peternakan tersebut dimatangkan terlebih dahulu. Dalam proses pengairan / penyiraman tidak boleh ada tambahan unsur hara yang berasal dari pupuk buatan/kimia.
    Pemeliharaan tanaman
    Pemeliharaan tanaman berupa penyiangan harus secara fisik atau manual, penunasan, dan penjarangan tanpa bantuan bahan kimia. Penambahan bahan organik setelah tanam dapat dilakukan. Penggunaan plastik mulsa dan naungan boleh dilaksanakan Penggunaan bahan kimia berupa pupuk dan pestisida tidak boleh dilakukan. Perawatan tanaman tidak boleh berdampak negatif terhadap lingkungan
    Pengendalian OPT
    Perlindungan tanaman harus bebas dari penggunaan pestisida kimia. Harus menggunakan beberapa cara dalam melaksanakan Integrated Pest Control (pengendalian hama terpadu), antara lain mengatur aerasi,multiple cropping, rotasi tanaman, pengembangan predator, dll. Untuk menjaga agar hal ini benar-benar dilaksanakan, harus ada pelatihan secara periodik. Penggunaan cara pengendalian ini harus memenuhi “enam tepat” yakni tepat jenis, waktu, dosis, konsentrasi, cara, dan alat aplikasi.
    Pengendalian hama diperbolehkan menggunakan insektisia biologis seperti B. thuringiensis atau insektisida yang terbuat dari bahan organik artifisial antara lain pyrethrum syntetic. Insektisida organik lainnya seperti ekstrak daun tembakau, mindi, bawang, dapat digunakan. Fungisida organik yang terbuat dari ekstrak kunir dll. dapat digunakan. Dianjurkan menggunakan varietas yang tahan penyakit seperti pada kentang penggunaan TPS (True Potatoes Seeds) akan lebih baik karena tidak memerlukan fungisida apapun. Dianjurkan menganalisis residu secara acak pada produksi yang dihasilkan.
    Panen
    Panen harus dilakukan secara mekanis atau manual. Hasil panen setelah dicuci (apabila perlu), harus dikering-anginkan sebelum dikemas. Waktu panen disesuaikan dengan kehendak konsumen. Tanaman yang dipanen sebaiknya ternaungi agar tidak cepat layu. Mengelompokkan hasil panen supaya seragam. Hasil sortiran dipisahkan tersendiri. Penggunaan herbisida atau ZPT tidak boleh dilakukan. Hasil panen yang masih kotor dan atau basah tidak boleh dikemas atau dimasukkan ke dalam kantong plastik, karena akan cepat busuk.
    Pengemasan dan pelabelan
    Bahan kemasan harus bebas dari bahan kimia. Label harus disesuaikan dengan grade tanaman organik, serta tulisan dan gambar tentang produk yang dikemas. Bahan kemasan harus tahan untuk angkutan jarak jauh apabila diperlukan. Bahan Kemasan harus dapat melindungi produk dari kerusakan fisik. Bahan kemasan sebaiknya bahan yang ramah lingkungan. Hindarkan kontak langsung lem pada selotip dengan hasil panen tersebut. Bentuk kemasan dirancang sesuai permintaan pasar. Ukuran kemasan disesuaikan dengan permintaan pasar dan ukuran produk. Produk yang telah dikemas dapat disimpan pada ruang an yang berpendingin dan mempuyai pengatur kelembaban relatif.
    Tidak boleh menggunakan zat kimia untuk mengawetkan hasil panen, baik berupa gas, cair, atau padatan.
    Penyimpanan bahan
    Kemasan tidak boleh dicampur dengan bahan kimia atau bahan-bahan lain yang terlarang untuk tanaman organik.
    Waktu pengemasan tidak boleh dicampur atau digabungkan dengan pengemasan tanaman nonorganik.
    Transportasi
    Transportasi harus menggunakan mobil tertutup yang berpendingin. Suhu selama dalam angkutan harus disesuaikan dengan spesifikasi produk. Alat transportasi harus dipelihara sedemikian rupa sehingga tetap bersih dan dalam kondisi siap jalan. Dalam transportasi, sebaiknya menggunakan kontainer yang dapat ditumpuk sehingga daya angkutnya optimal. Dianjurkan agar produk yang telah dikemas secepatnya dikirim ke tujuan. Dalam transportasi tidak boleh dicampur dengan barang yang terlarang bagi tanaman organik.
    Peralatan
    Peralatan yang digunakan harus bebas dari kontaminasi terhadap bahan-bahan kimia. Peralatan sebaiknya dirawat dan dijaga dengan baik. Perlu ada buku perawatan peralatan. Kalibrasi peralatan secara periodik. Tidak boleh menggunakan alat-alat bekas pakai bahan- bahan yang terlarang bagi tanaman organik.
    Penyimpanan produksi
    Penyimpanan produksi harus dipisah tersendiri dalam ruangan yang tertutup. Ruang yang digunakan sebaiknya mempunyai fasilitas pendingin dan pengatur kelembapan relatif. Penyimpanan produk organik tidak boleh dicampur dengan bahan- bahan terlarang.
    Penyimpanan pupuk
    Pupuk organik harus terpisah penyimpanannya dari produksi. Waktu kedatangan dan pengeluaran sebaiknya FIFO, dan tercatat dengan tertib. Untuk menjaga kelangsungan usaha, stok pupuk organik tidak boleh kosong.
    Standar mutu
    Harus ada standar mutu yang jelas untuk setiap jenis produk tanaman. Standar mutu yang belum jelas dapat dibuat tersendiri oleh produsen. Standar mutu tidak boleh berubah-ubah.
    Pelestarian lingkungan
    Setiap langkah dalam mengusahakan tanaman organik, harus ada upaya pelestarian lingkungan. Setiap inovasi sebaiknya mengacu pada pelestarian lingkungan. Tidak boleh mengganggu atau berdampak negatif terhadap lingkungan.
    Tenaga kerja
    Tenaga kerja harus memenuhi peraturan ketenagakerjaan yang berlaku. Tenaga kerja dianjurkan memiliki keahlian, keterampilan dan kompetensi yang memadai, serta sebaiknya dipisahkan tersendiri.
    Sanitasi lingkungan
    Harus menyediakan tempat mencuci sayuran, toilet yang bersih. Melakukan sanitasi lingkungan secara intensif dan konsisten. Di dalam melakukan kegiatan sanitasi tidak boleh sampai mengganggu lingkungan.
    Sertifikasi
    Untuk kegiatan ekspor, sertifikasi harus ada. Sertifikasi sebaiknya dibuat untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Walaupun telah terbit sertifikat, produksi yang diberi label organik tidak boleh diiisi yang non organik.
    Formulir pengaduan
    Harus disiapkan di setiap sales point, atau dicantumkan alamat, telefon yang menerima pengaduan. Pengaduan harus segera ditanggapi. Konsumen diizinkan melihat langsung proses penanaman tanaman organik setiap saat. Tidak boleh menolak jika ada inspeksi atau kunjungan dari luar yang ingin melihat langsung ke lapangan.
    Pembinaan
    Petani/pengusaha tani harus mau melakukan perubahan kearah yang baik dan benar, sesuai dengan pengarahan pembina. Instansi pembina dapat melaksanakan pembinaan dan bimbingan agar proses menanam organik berjalan dengan baik dan benar, Tidak boleh menolak jika ada inspeksi langsung ke lapangan.
    Ir. MEMET HAKIM, M.M.
    Konsultan Pertanian Organik/Aspaindo Organik

  19. irlangga mengatakan:

    apakah budidaya sistem sri itu jgu bisa diterapkan pada komoditas tanaman lainnya???sperti kedelai,jagung,dsb. .
    dan juga penerapanya untuk daerah didataran tinggi maupun lereng2 gmn??karena jelas didataran tinggi mempunyai topografi yang berbeda dan iklim yang berbeda pula dengan tanaman ag bs dibudidayakan pula. .
    krn mnrt sy disana msh bnyk lahan yg subur yg bs dimanfaatkan.tentunya dengan mmprhtkn etika lingkungan dlm pengelolaannya

  20. suli partono mengatakan:

    salam para petani

    Pak gunadi dan pak haykal dan camerabersatu.
    Saya petani yang terus menjadi ‘virus’ petani lain…sekarang satu dua mengikuti pola saya dalam bercocok tanam,saling mengisi dan tukar pendapat.
    bapak haykal…lambat pertumbuhan harus mengingat kemarin umur tanam berapa hari,kedalaman berapa dan tanahnya seperti apa.semua aspek aturan SRI atau Ipat harus mutlak ada.semua akses bisa di cari internet.

    bapak gunadi
    ijazah hanya simbol,yang terpenting dalam hidup adalah terpenuhinya akan kebutuhan keluarga dan kesenangan…dalam arti luas,senang akan dunia ternak dan sawah adalah masing masing.lebih lebih sebagai mandiri..tanpa tergantung pemerintah atau memakinya karena pupuk kimia langka dan harga mahal.belajar arif pada alam…alam akan membalas dengan kebaikan.

    Sekarang caraku bertani semakin dibenci kios pertanian karena ‘virus’ku dulu yang tertawakan aku sampai dia nyungsep keselokan irigasi lantaran melihat cara bertanam yang jarang dan satu satu serta pegang nampan plastik persegi tempat benih…sekarang menjadi teman baik.dulu yang getol pupuk kimia overdosis dan paling serakah dalam ngutang pupuk sekarang memelihara 4 ekor sapi sebagai ‘bank’untuk sawahnya.malah sampai membeli kompos jika merasa kekurangan.
    tentang MOL apalagi…..dan pesticida nabati mereka mencarinya yang kadang saya malah tidak tahu daunnya tapi namanya saja.
    komunitas organik tempat saya hanyalah ‘virus’yang terus menjalar pelan tapi pasti.
    dan yang utama adalah anti padi hibrida…bukan dari harga bibit yang mahal dan turunannya tidak bisa buat bibit lagi,tetapi tidak mau memperbanyak padi transgenik.pasti tau pemerintah akan bahaya padi transgenik…tetapi iklannya nasi pulen,potensi hasil tinggi dll tidak mencantumkan efek sampingnya.bukankah padi padi yang keluar dari BB padi sukamandi(inhibrida)jugakan hasilnya tinggi semua tidak kalah dengan padi rekayasa itu ?
    asalkan cara bertaninya serius…contohnya saking pinginnya melihat percontohan padi ya datang ke BB padi sukamandi kalau ada open house.ya saam persis kalau ada tontonan wayang kulit dalang ternamalah jauhpun pasti berangkat rombongan hanya mau melihat warisan budaya yang adiluhung penuh pelajaran .

    Kalau mau beli bibit kedelai bagus ya di balitkabi…kan pakar pakarnya sudah mumpuni..buat apa yang dimanfaatkan..kan sudah disekolah ke dalam/luar negeri hanya untuk memperdalam dan mencetak palawija contoh,kedelai 3.5 – 4 t/ha. masa masih tergantung amerika saja.

  21. suli partono mengatakan:

    salam pak catur dan comera bersatu

    pak catur..maaf kemarin saya tidak sempat membaca tulisan bapak yang singkat tapi sangat bermakna….pelampiasan saya tentang orang yang di bayar oleh pajak dan kekayaan indonesia…hanya tertawa riang yang menandakan saya tidak waras.saya pernah membaca pada salah satu majalah pertanian…tentang swasembada yang selalu mundur atau gagal berulang kali.konsekuensinya kenapa yang membuat rencana swasembada tidak ikut mundur.sama persis dengan berada di BPP yang bapak maksud… sudah mengiklankan sebuah varietas tertentu dan membawa beberapa botol obat pesticida…namun setelah hama menyerang pada lari.atau toh dicegat dijalan…karena jarang mereka datang kesawah sawah…menjawab ‘memang lagi musim hama anu’pak pasrah saja sama Allah.belum lagi tenaga bantunya…pak saya membawa obat ini ces pleng/thek sek yang artinya hama langsung mati.beginikah alur pertanian kita ? makanya kecuali di benci sama kios pertanian juga di benci sama PPL karena tidak menurut kata mereka.saya sendiri tidak menjadi apa apa…saya hanya tersenyum dan senang di benci.seorang sukrosono dibenci karena buruk rupa,ngomongnya saja sulit dimengerti namun bisa melawan bathara wisnu dan bisa membawa taman sriwedhari atas permintaan kakaknya sumantri sebagai syarat diterimanya di negara maespati.lalu siapa yang menikmati akan keindahan sebuah taman. siapa yang akan menikmati seandainya di negara agraris ini petaninya mengerti akan kesaktian yang bernama ORGANIK ?????

    salam petani gurem
    suli

  22. comera bersatu mengatakan:

    BRAVO………. PETANI INDONESIA…..

    saudara Irlangga > Terus terang kami belum sempat untuk melakukan untuk tanaman lain baru padi. Apalgi daerah kami merupakan sentra tanaman padi, hanya pertanian organiklah yang ramah lingkungan karena kita harus berpikir untuk generasi berikutnya, tanah yang subur jangan sampai rusak untuk mereka……

    Pak Sulipartono > Saya sangat bangga mendengar kemandirian bapak untuk memperjuangkan pertanian Organik dan sekali gus terharu karena Bapak mendapat tantangan dari kios pertanian dan PPL setempat… Tapi saya yakin bapak mampu menghadapi semua…
    Dan disini perlu juga saya tekankan untuk semua PETANI INDONESIA jangan lah kita terpukus dengan program dari dinas pertanian, karena kita lebih mengetahui kondisi areal pertanian baik segi SDA maupun SDM kita dari mereka, kebanyakan program dari mereka cuma petani jadikan objek bukan subjek asal proyek dari program mereka berjalan, dan kita belum tentu mendapatkan untung dari program tersebut karena rencana yang kita buat untuk pengolahan lahan kita kebanyakan tertunda.. Dari itu marilah kita sendiri yang memprogram cara bertani kita di samping kita selalu menggali informasi tentang pasaran nya dan tanaman apa yang cocok, agar bisa lebih bernilai ekonomis.. kalau ini sudah tertanam oleh semua petani saya yakin PERTANIAN DI INDONESIA akan lebih baik…

    MARI KITA TERUS BERJUANG………………….

  23. amin mengatakan:

    Salam hangat dan perkenalan buat rekan2 semua,akhirnya dapat juga situs diskusi kawan2 yang sepaham,orang orang idealis yang realistis.
    Dari hasil pengamatan saya,kenapa bisa terjadi ledakan hama,salah satu diantaranya adalah penggunaan bibit yang katanya disubsidi oleh pemerintah, dibagikan gratis,padahal realitanya petani pun membeli dg harga yang cukup lumayan mahal,tetapi kualitas bibit yang mereka dapatkan sangat jauh dr layak tanam,karena perusahaan yang menyalurkan benih ini menerapkan standard mutu sendiri,inilah gilanya negara ini, untuk para pembenih lokal diterapkan peraturan yg ketat dan pengawasan ketat,tetapi benih yang disubsidi pemerintah ternyata kualitas untuk dikonsumsi bukan untuk ditanam.setahu saya kecuali pembibitan murni yang dikembangkan di rumah kaca,setiap bibit unggul yang ditanam pasti turun kualitasnya satu tingkat,makanya ada pelabelan pada bibit yang dijual, putih,bibit unggulpembiakan yang pertama , label ungu, hasil pengembangan dr bibit label putih,kualitas memadai tetapi di bawah label putih,setelah itu label biru dan label merah,kebanyakan benih yg disubsidi pemerintah berlabel biru,coba kalau rekan2 bandingkan dg benih yang kita beli dr sukamandi dg benih untuk petani yg disubsidi pemerintah,sama2 label biru, benih dr sukamandi bersih, penampilannya bagus, sedangkan benih yg disubsidi pemerintah, berwarna agak kehijauan seperti belum masak,hasil panennya pun tdk akan baik dg bibit seperti itu, dg biaya yg tambah besar, dg kenaikan harga pupuk, berhutang dulu, bayar pas di panen,mandulnya bulog hingga yang berkuasa para tengkulak yg juga tidak bayar langsung,tunggu mereka ada uang dulu,dg hasil panen yg umum sekarang siapa petani yang menginginkan anaknya jadi petani juga,anggapannya profesi petani tidak patut dibanggakan dan tdk bisa memakmurkan kehidupan saya anggap ini proses pembodohan dan pemiskinan secara sistematis.jangan salah kaprah dg istilah subsidi pemerintah,sebaliknya subsidi itu akan dirampok balik dr petani,melalui pupuk dan insektisida,jadi tidak ada istilahnya subsidi,itu bohong belaka.
    Dan betapa mencemaskan di mana penggunaan pestida di kalangan petani mencapai taraf yang sangat tidak masuk nalar dan logika lagi,yang berakibat pada tumpukan kandungan racun pada sebutir beras, dan saya menduga kalau kemarin ada wacana ekspor beras tdk jadi, bukan karena negara lain tidak mau menerimanya,tapi penerapan uji kualitas beras pasti menjegalnya,dan dr yang saya baca,salah satunya kandungan arseniknya mencapai 50%,entah benar atau tidak berita ini.
    Negara ini tidak pernah berpihak pada para petani,apa mereka tdk mengerti betapa sulitnya untuk menanam 1 butir beras.tanpa mencampurbaurkan politik lho,notabenenya negara ini dipimpin oleh seorang sarjana pertanian, tapi sudahlah seperti yang dibicarakan di atas,kalau memang negara ini tidak mau peduli, masih ada warga negaranya yang sangat peduli pada bangsa ini seperti anda semua.salut buat rekan-rekan sekalian

  24. suli partono mengatakan:

    selamat malam…rekan
    Ya….dari seorang sukrosono dewi citrawati sangat senang akan keindahan sebuah taman…yang bernama sriwedari…begitu juga suaminya arjuna sasrabahu raja maespati….dan tentu saja sumantri menjadi patihnya bergelar suwanda…..lantas siapa yang mau perduli dengan peran sukrasana,seorang yang buruk rupa berwujud raksasa kerdil dan ngomong saja tidak jelas tetapi sangat sayang pada kakaknya.
    Seorang mikroba dan balatentaranya tidak kelihatan dalam tanah…tetapi perannya sangat dibutuhkan oleh tanaman….siapa yang mau perduli dengan mikroba yang menguntungkan itu…keinginannya sebenarnya mudah,seperti sukrasana mau ikut merayakan penobatan kakaknya sebagai patih.tapi apa akibat yang harus ditanggungnya ? mati sia sia
    Mikroba meminta hanya kearifan alam yang selaras yang tidak merogoh kocek uang sendiri atau hutang.yaitu kembali kealam seperti leluhur dahulu membawa kotoran ternaknya,kotoran sendiri(maaf)dan lain lain yang tentu saja disesuaikan dengan terapan teknologi pengolahan limbah.
    citrawati yang takut akan rupa jelek sukrasana…membuat kakaknya lupa diri mengusir dengan senjata yang terlepas atau sengaja terlepas dari tangannya dan akhirnya disini selesai kewajiban jasad sukrasana.
    Pemerintah lupa….peran yang bernama organik…lupa sudah…jika mau ingat akan swasembada daging yang mundur dua kali…sukrasana bukan siapa siapa…tetapi apa yang diterapkan oleh sebagai seorang sukrasana adalah memelihara ternak khususnya sapi(betina)dan kotorannya sebagai ‘bank’mikroba sawahnya….karena sudah malu hidup di negara agraris yang masih menjadi pengimpor sapi dari negara lain.malu akan padi yang dimakan bukan organik….yang jelas ditolak oleh pasar organik.
    ‘tuhan’yang bernama urea,tsp dan kcl dan hiruk pikuknya menjelang musim tanam adalah gambaran hingar bingar pertanian kita…pesta pora dari mata rantai tata niaga pupuk sampai sales obat pesticida yang berjoget.
    salam petani gurem
    suli

  25. comera_bersatu mengatakan:

    salam kembali untuk bapak Amin….. mudah-mudah dengan wadah ini bisa memberi inspirasi untuk petani di negara kita, kami masih butuh informasi untuk kemajuan petani di Indonesia….

    untuk bapak Suli partono saya bangga sekali dengan pengalaman bapak, saya berharap pengalaman bapak bisa jadi tolak ukur bagi petani yang lain….

    Semoga Pertanian Indonesia Bisa Bangkit……..

  26. Efendy manan mengatakan:

    Ass para petani semua,
    Perekenalkan saya Efendy Manan.Petani dari Pasuruan jawa Timur.Memang betul semua pak Suli.sekarang kita sudah sangat bergantung pada pestisida dan pupuk kimia yang harganya makin mahal dan bikin tanah kita makin rusak.Saat ini saya mulai mengembangkan pupuk buatan sendiri dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi atau Biokultur.Juga pestisida organik.Yah,walaupun belum full organik minimal saya tidak terlalu tergantung dengan pupuk kimia.Bagi yang ingin sharing bisa hub saya di 081-336828357.

  27. suli partono mengatakan:

    salam petani

    pertanian organik khususnya padi…saya anggap biasa saja,yang saya terapkan mendekati teknis…air contohnya kalau kita berlakukan mutlak harus dari mata air atau bebas residu kimia….pasti pusing mencarinya tanah seperti itu,ingat tetangga kita masih memakai cara konvensional,cara penyelesaianya jangan lantas mengajak ikut bertani organik .karena bertani organik timbul dari kesadaran diri .aktif membuat petakan 1 x 1 m pada setiap saluran air yang masuk dari sawah tetangga dengan di tanami enceng gondok.kedua tanaman dari pematang satu meter….kecuali buat parit mengelilingi petak sawah juga menghindari semprotan kimia dari tetangga.saya menerapkan seperti ini supaya hasilnya bagus.hal ZPT selama masih menggunakan bahan nabati yang mengan dung ZPT menurut saya syah syah saja.karena ada hubungannya dengan hormon tumbuh.banyak bahan disekitar kita sebagai ZPT….tinggal mencari tahu agar banyak tahu….bagaimana pengisian bulir sampai kepangkal malai…saya kira ada hubungan dengan kerja hormon.laksanakan saja sesuai keinginan hati…dengan cara arif,jangan ambisi untuk padinya menjadi mahal…yang lebih penting adalah keluarga makan nasi pemberian alam yang baik sebaik kita pada alam.

    petani gurem
    suli

  28. Comera Bersatu mengatakan:

    Salam untuk semuanya….
    Semoga yang kita lakukan saat ini dirahmati Tuhan,. Maaf kami sebagai penyelenggara blog ini kurang begitu aktif.. Disini saya sangat bangga pada saudara-saudara semua dengan semangat untuk perobahan pertanian di Indonesia ini, Saya mengaturkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya…

    Memang betul untuk mencapai perobahan ini sangat berat, tapi bisa kita mulai dari diri sendiri, mungkin dengan ini kita bisa memberikan contoh pada orang lain. Kami tekan kan juga disini seharusnya kita punya kepuasan juga dalam melakukan ini, walau sering kali kegagalan yang kita jumpai karena di situlah pengalaman yang sangat berharga.. Jadi sangat menunggu Pengalaman-pengalaman baik yang sukses maupun yang kurang sukses mungkin di blog ini bisa kita pelajari dan mencari solusi yang terbaik…
    BROVO PETANI INDONESIA….. kita pasti mampu menjadi yang terbaik………..

  29. suli partono mengatakan:

    dari petani gurem

    akhirnya saya bisa menyaksikan sendiri padiku…alhamdulilah.dari inpari 1 dengan jajar legowo 5 : 1 dan melihat daunnya semoga jauh dari HDB karena sekarang ditempatku banyak terserang dengan pemakaian urea yang berlebih dan curah hujan yang tinggi.
    inpari 6 karena umurnya agak panjang/118 hss,daun kurang sehat dan lebih penting lagi untuk mengejar tanam kedelai,jadi condong pada inpari 1.
    dari padi sertani….dengan kaidah kaidah sesuai aturan penemunya…sampai saat ini bisa menjaga dari hal merugikan.yang tak terduga adalah batang besar dan daun yang lebar.denagn jajar legowo 2 : 1 30 x 30 x 40 rasanya puas walaupun rasa kawatir dengan daun yang lebar karena harus menjaga dari BLB dan tentunya sundep dan beluk.disinilah tantangannya…menanam padi dengan varietas beda dengan yang lainnya.harus waspada dan sering kesawah…tapi kalau tidak ada yang memulai siapa lagi….petani yang tahan bantinglah yang bisa bertahan dengan segala ejekan dan tertawaan dibelakang layar yang bernama PETANI YANG SUDAH TERACUNI BIMAS SEJAK 1984……

  30. suli partono mengatakan:

    Menyambung …dan penjelasan
    inpari 6 sangat pulen,tapi umur 118 hss dan pada daun yang sekarang(MT2)kurang kecripatan BLB dari tetangga mungkin.beruntung cuma satu petak,pertimbangannya adalah karena umumnya setelah MT2 menanam kedelai,saya lebih banyak menanam inpari 1 yang sangat genjah untuk mengejar tanam kedelai lebih dulu yang nantinya di harapkan panen juga duluan.
    tentang umur sertani 1 juga sama sama genjahnya dengan inpari 1.

    salam petani gurem
    suli

  31. sunarso mengatakan:

    saya sangat salut dengan tulisan ini….maju terus petani indonesia walaupun pihak pemerintah tdk pernah serius menangani pangadaan pangan dalam negri dkarenakan akan merugikan importir atau pengusaha importir….tapi yakinlah bahwa Alloh akan selalu bersama orang2 yg konsisten memajukan rakyat kecil….padahal tanpa disadari jika petani kuat petani kaya negara kuat dan kaya—–

  32. BoerSimanagie mengatakan:

    Dengan semakin mahalnya bisaya pestisida, maka kita petani kita mulai melirik pestisida organic. Disamping harganya murah, bahan-bahannya banyak tersedia di sekitar kita. Namun sayangnya kita enggan untuk membuatnya, karena umumnya kita tidak tahu bagaimana cara membuatnya.
    Pestisida adalah zat pengendali hama (seperti: ulat, wereng dan kepik). Pestisida Organik: adalah pengendali hama yang dibuat dengan memanfaatkan zat racun dari gadung dan tembakau. Karena bahan-bahan ini mudah didapat oleh petani, maka pestisida organik dapat dibuat sendiri oleh petani sehingga menekan biaya produksi dan akrab dengan lingkungan.
    Penggunaan pestisida organik juga harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan kesabaran serta ketelitian. Banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan hama. Waktu penyemprotan juga harus diperhatikan petani sesuai dengan siklus perkembangan hama. Pestisida organik dapat menjamin keamanan ekosistem. Dengan pestisida organik hama hanya terusir dari tanaman petani tanpa membunuh. Selain itu penggunaan pestisida organik dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia.
    Untuk pencegahan adanya hama, penyemprotan dapat dilakukan secara periodik pada tanaman sayuran. Sebaiknya dalam waktu satu minggu sekali atau disesuaikan dengan ada tidaknya hama karena hama selalu berpindah.

    Bahan baku Pestisida organik dapat diperoleh dari biji mahoni, kunyit, jahe, serai dan cabe. Pembuatannya dengan dihaluskan, diberi air, diperas dan disaring . Untuk cabe saat penyemprotan harus hati-hati jangan sampai berbalik arah mengenai manusia.

    Pestisida dari mahoni untuk mengatasi hama tanaman terong dan pare. Kunyit, jahe, serai untuk mengatasi jamur tanaman dan buah. Cabe untuk mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah.

    Selain dengan pestisida organik buatan, pengusiran hama lalat buah juga dapat dilakukan dengan pengalihan perhatian hama pada warna-warna yang disukainya. Caranya dengan memasang warna tertentu yang bisa menarik lalat buah di sekitar tanaman. Pertanian secara tumpang sari juga bisa menjadi alternatif mengurangi hama tanaman tertentu.
    Berikut beberapa cara untuk membuat pestisida organik yang dapat dibuat sendiri:
    Membuat Pestisida Organik untuk Hama dan penyakit tanaman
    Bahan dan Alat:
    2 kg gadung.
    1 kg tembakau.
    2 ons terasi.
    ¼ kg jaringao (dringo).
    4 liter air.
    1 sendok makan minyak kelapa.
    Parutan kelapa.
    Saringan kelapa (kain tipis).
    Ember plastik.
    Nampan plastik.

    Cara Pembuatan:
    Minyak kelapa dioleskan pada kulit tangan dan kaki (sebagai perisai dari getah gadung).
    Gadung dikupas kulitnya dan diparut.
    Tembakau digodok atau dapat juga direndam dengan 3 liter air panas
    Jaringao ditumbuk kemudian direndam dengan ½ liter air panas
    Tembakau, jaringao, dan terasi direndam sendiri-sendiri selama 24 jam. Kemudian
    dilakukan penyaringan satu per satu dan dijadikan satu wadah sehingga hasil
    perasan ramuan tersebut menjadi 5 liter larutan.

    Dosis:
    1 gelas larutan dicampur 5-10 liter air.
    2 gelas larutan dicampur 10-14 liter air.

    Kegunaan:
    Dapat menekan populasi serangan hama dan penyakit.
    Dapat menolak hama dan penyakit.
    Dapat mengundang makanan tambahan musuh alami.

    Sasaran :
    Wereng Batang Coklat, Lembing Batu, Ulat Grayak, Ulat Hama Putih Palsu

    1. Pestisida Organik NIKURAK (mahoni, tembakau dan daun jarak)
    a. Bahan-bahan
    1. Biji mahoni : 300 gram
    2. Tembakau : 100 gram
    3. Daun jarak : 1 kg
    4. Air : 6 ltr
    b. Cara membuatnya
    1. Biji mahoni digiling/ditumbuk halus.
    2. Daun jarak dan tembakau direbus dengan air sampai mendidih, angkat dan dinginkan. Campurkan mahoni yang sudah ditumbuk halus aduk hingga rata, kemudian diamkan selama 24 jam, lalu saring.
    3. Jika larutan pestisida organik ingin disimpan, maka pencampuran dilakukan pada saat akan digunakan.
    c. Dosis :
    30 cc larutan pestisida organik ini bias digunakan untuk satu tangki sprayer (+/- 15 liter).
    Semprotkan ke lahan yang terkena hama pada waktu pagi atau sore hari. Ulangi tiap 4 hari sekali.
    d. Sasaran OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)
    Ulat grayak : pada tanaman bawang merah, bawang putih, kedelai, jagung, kacang tanah, kacang panjang, kubis dan sawi
    Ulat penggulung daun dan perusak daun pada tanaman padi.
    e. Hasil pencapaian
    1. Pestisida Organik NIKORAK bersifat racun kontak, dan hama yang terkena secara langsung , tingka kematiannya tinggi.
    2. Populasi hama turun drastic dan timbulnya lama
    3. Keluhan sampingan tidak ditemui, pada waktu setelah penyemprotan.

    2. GACASI (gadung, cabe merah dan daun sirih)

    a. Bahan-bahan
    1. Gadung : 4 kg
    2. Cabai merah : 2 on
    3. Daunsirih : 2 kg
    4. Air : 15 ltr
    b. Cara membuatnya
    1. Gadung, cabai dan daun sirih digiling halus dan campurkan dengan rata
    2. Tambahkan air, aduk sampai rata dan disaring, air ramuan merupakan induk pestisida.

    c. Penggunaan
    14 liter air dicampur dengan pestisida 250 cc (1 gelas), semprotkan ke lahan pada waktu pagi/sore hari, ulangi 4-5 hari sekali.
    d. Sasaran OPT
    Penggerek batang, wereng, walang sangit, thrip, aphia, serangga kecil lainnya.

  33. neta mengatakan:

    Kenapa sistem tanam SRI lebih banyak mengulas sisi keberhasilannya? padahal ada hal yang sangat menguras biaya tenaga kerja, yaitu pengendalian gulma yang mana ini akibat tanam benih muda, Jarak tanam yang lebar dan pengairan berselang. Ketiga hal tersebut memicu tumbuhnya gulma yang sangat hebat dan menghabiskan biaya 4 kali lipat.

  34. muchlis mengatakan:

    cara mengatasi hama burung pipit gmn.

  35. Mohammad Isya mengatakan:

    Sejak tahun 2008 saya sudah menerapkan Metode SRI Organic,Alhamdulillah berhasil dengan hasil yang memuaskan. Ya sekarang kami berusaha mengenbangkan Metode SRI Organic meski banyak kendala dilapangan yang kami hadadapi baik dengan Petani Sendiri maupun dengan Penyuluh (PPL),karena kurangnya tenaga SRI dilapangan.

  36. sulipartono mengatakan:

    Assalamualaikum teman petani

    Lama sekali nga nongol disini….
    menjadi petani organik sangat terengah engah ya…sama sekali nga ada teman, hidup sendiri kadang tertawa sendiri…haha

    Tertawa menyaksikan padi yang mandiri..tanpa sentuhan apa apa
    hanya kotoran kambing matanglah yang menemaninya…sesekali disemprot dengan urine manusia ya saya sendiri serta satu keluarga telaten setiap pagi ditampung untuk dijadikan POC…..

    Padi yang kemarin panen inpari 13 dengan produktifitas 7 ton GKP/ha dan sedianya untuk teman petani yang membutuhkan.

    Petani seperti saya hanya bisa menyaksikan berita berita ekonomi di kompas’ ada apa gerangan dengan produksi menurun….target tidak tercapai….mau impor beras lagi…wereng kah? apa petaninya ? yang overdosis sistem konvensional…

    Terima kasih

    Petani gurem

  37. sulipartono mengatakan:

    Saya sedikit memberi solusi pada saudara neta…

    Rumput/gulma pada dasarnya adalah berasal dari benih rumput tersebut yang pendahulunya rumput tersebut pada saat tumbuh sampai berbunga(tua)sampai jatuh itu bunga tua, jadi sudah pasti tatkala ada kondisi yang bagus..atau masanya tumbuh dari masa dormannya.

    Pengalaman saya…dengan gosrok atau kita jalan jalan rapat diantara tanaman padi sebelum benih rumput itu tumbuh adalah sangat baik jika dibandingkan dengan kita menunggu rumput tumbuh.memang butuh kesabaran.kalau sistem tegel untuk menggosrok bisa silang,tetapi jika jajar legowo kita hanya bisa membujur mengikuti barisan padi.

    Gosrok pertama umur 10 HST, kedua 17 HST ketiganya 21bisa kita jalan jalan rapat(membuat bekas telapak sambil agak ditekan) ini gunanya disamping mematikan benih sisa gulma juga memberi ruang sirkulasi(tukar kation) dan tempat pupuk padat tidak cepat terbawa air(hujan)

    matur suwun

  38. Forza Aholld mengatakan:

    ass,,, sya mlihat sistem tanam SRI sngat bagus skali shingga sya ingin skali mencobanya….

  39. jani mengatakan:

    pak saya baru mau mencoba tanam padi sri di malaysia.sila bantu saya

  40. awan mengatakan:

    Kami produsen pupuk hayati agrobost. sangat concern dengan pertanian organik termasuk pengembangan budidaya padi dgn sistem SRI. pupuk agrobost 100% bebas kimia sehingga cocok untuk lahan2 pertanian kita. Agrobost mengandung mikroba-mikroba (azotobacter sp, Azospirilium sp sebagai penambat N, mikroba pelarut P dan mikroba pedegradasi K) yang dibutuhkan oleh tanah. Kebutuhan tanaman dapat dipenuhi secara optimal yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil produksi pertanian.

  41. adi mengatakan:

    kami mempunyai kohe kering dan bisa supply 20Ton per hari, lokasi di pabuaran-subang jabar. kami punya hasil lab dari kohe kami, kalau diperlukan akan kami kirimkan. Mohon info pemasaran kohe kami dan kami akan memberikan harga terbaik.
    Trima kasih

  42. zuLiG mengatakan:

    nama benih padinya bisa didapet dmn yah gan

  43. sulipartono mengatakan:

    Pak Adi….kohe kering artinya sudah matang dan 20 t/hari…wow.lokasinya di pabuaran….lumbung padi.iklankan ke petani subang dan karawang gratis dulu.itu kayaknya feetlot sapi….ya mas.pengalaman saya didaerah pesisir selatan jawa tengah,memang tidak sebanyak itu namun yang gratis dekomposernya…..kita ajari cara mengolahnya .sekarang daerah tersebut memperbanyak sapinya….tadinya enggan memakai kohe.

  44. Deden Suwega mengatakan:

    bravo utk semua insan tani berbasis organik, salam kenal

  45. eni pratiwi mengatakan:

    terima kasih atas informasi atas yang saya baca,karena saya adalah petani sri pemula ingin mengetahui lebih lanjut untuk mengatasri hama sundep dengan cara alami, karena di daerah kami sering terjadi serangan hama tersebut.bagi yang mengetahui caranya tolong jelaskan.TERIMA KASIH!!!!!

  46. idris afandi mengatakan:

    Bagus sekali isi nya pak, saya juga lagi berusaha menerapkan metode SRI di indramayu yg pstinya sangat mendukung sekali pengairanya..

  47. khairul anwar mengatakan:

    terimakasih pak atas informasinya……………………… semoga bermamfaat bagi orang lain dan di rahmati tuhan SWT

  48. agung sy mengatakan:

    matur nuwun penjelasannya,….. semoga bermanfaat bagi kami yang sedang mencoba di daerah tadah hujan,……

  49. fety yusnia ariyani mengatakan:

    saya ngingin mengikuti pelatihan setelah selesai saya akan bagikan ke para petani didaerah saya.Supaya para petani di daerah saya dapat merasakan hasil dari pertanian itu sendiri.tanpa harus mengeluh lagi akan kesulitan ekonomi.Saya ingin mensejetrahkan petani di daerah saya.Supaya menjadi petani yang pintar. terimakasih semoga saya dapat respon yang positif dari anda.

  50. suwarno mengatakan:

    Pada musim MT1 2012 ini saya sudah menanam padi inpari 13 dengan pola SRI jarak tanam 25 cmx25 cm dengan 1 benih per lubang dengan umur benih dipesemaian 10 Hr setelah panen anakan produktip mencapai 56 malai,setelah saya ubin 1HA bisa menghasilkan 17,75 ton Ha gabah basah.

  51. Naru Madridista mengatakan:

    sangat lengkap dan membuat saya puas..
    keren keren

  52. fibillahnur mengatakan:

    hebat…hebat…hebat…

  53. hardisutrisno mengatakan:

    salam pertanian jaya petani indonesia, berbagai tidak pernah merugi, kemarin kami mencoba lahan kami yang -+ 6000 untuk mencoba tanam sistem SRI, dengan varietas padi mentik wangi, menurut kami yang dilapangan biaya operasional untuk menanam sri masih cukup tinggi, mohon saran dan bantuannya, untuk menangani hama sawah kami menyemprot dengan urine sapi + butrowali, dan empon2, apabila padi sudah terserang hama wereng bisa ditambah dengan daun sirsak, dan bawang putih yang berguna untuk pertumbuhan daun kembali kami sudah mencoba pada padi organik kami

  54. Teja Sukma mengatakan:

    saya seorang petani, meski belum bertani secara organik tapi saya berkonsep organik dan sangat ingin bertani organik secara total. tapi di daerah saya, desa tahunan.kec, gabus. kab, grobogan adalah daerah dengan lahan sawah tadah hujan murni dengan curah hujan yang sangat rendah,Selama ini yang saya lakukan adalah bertani dengan meminimalkan penggunaan zat2 kimiawi,saya masih memakai pupuk majemuk kimiawi tetapi tidak menggunakan obat2 kimiawi(pestisida, fungisida dll). Bagaimanakah solusinya agar saya dapat bertani secara organik sedangkan jaminan ketersediaan air secara mutlak tidaklah mungkin terpenuhi? apakah ada cara bertani organik selain dengan sisten SRI yang bisa diterapkankan di daerah saya yang ketersediaan airnya tidak setiap saat terjamin secara mutlak?

  55. van hans mengatakan:

    Salam kenal, kami para petani muda yang baru belajar organik di wilayah yang anti organik hehe,,,,sekedar share ja pak. Kami dah merintis organik selama kurang lebih 3 tahun, tp msh belum mendapatkan hasil sesuai dengan yg diharapkan, namun alhamdulillah perkembangannya sudah cukup baik. Yg menjadi kendala terbesar kami adalah lahan yang terbatas karena hampir s3mua petani tidak mau menggunakan metode ini dikarenakan mereka tidak terbiasa dan belum mengetahui hasilnya, jadi mereka tidak mau berspekulasi alasannya. Sampai saat ini hanya kami yg masih bertahan untuk terus belajar dan mengembangkan pertanian organik di wilayah kami, d2ngan harapan suatu saat dapat menjadi daya tarik buat para petani disini untuk dapat mengikuti. SEMANGAAAT ORGANIK.

  56. amar faruq mengatakan:

    mudah2an tanam model SRI ini segera merakyat.Untuk PPL Pertanian se-Indonesia mohon untuk aktif mensosialisasikan metode tanam SRI ini.Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: